Wisata Lebaran Yogyakarta (1)

"De Mangol" Keindahan Memikat di Bukit Pathuk

"De Mangol" Keindahan Memikat di Bukit Pathuk
Ilustrasi | SENAYANPOST.com

NAMANYA memang De Mangol. Bukan di Prancis atau negeri lain. Dari Kota Yogyakarta arah Wonosari lokasinya tidak terlalu jauh, berkendara mobil dengan kecepatan sedang sekitar 50-70 km/jam hanya membutuhkan waktu sekitar 35-50 menit.  

Ya, tempat wisata De Mangol di perbukitan Pathuk itu konon baru setahun dibangun. Tapi sudah banyak pengunjung domestik datang. Kalau saja tidak ada larangan mudik di sekitar Lebaran tahun ini mungkin tempat wisata ini kebanjiran pengunjung. Karena dibandingkan dengan tempat wisata De Mangol paling dekat dan mudah dijangkau dari Kota Yogyakarta. Harga tiket per pengunjung pun tak mahal, hanya Rp 20 ribu, seharga semangkuk bakso.

Di lokasi pariwisata itu yang dicari pengunjung adalah panoramanya. Di lahan seluas sekitar 4 hektare itu ditata rapi. Pengunjung dapat memilih lokasi untuk melihat pemandangan di di bawah atau keliling-keliling berbelanja berbagai macam souvenir atau makanan dan minuman. 

Sejumlah rombongan tampak asyik berbincang di kursi-kursi seputar meja di dalam lingkaran besi besar mirip kurungan burung. Anak-anak keluar masuk bervariasi sambil bercanda ria. Menyenangkan.

Sebagian rombongan tampak santai berbelanja barang-barang  dan makanan suvenir khas Yogya di sejumlah gerai yang melingkari restoran besar. Harga barang tak ada yang mahal. 

"Kami bikinkan sejumlah gerai secara gratis untuk memberi kesempatan warga sekitar sini berjualan," kata Bambang Utomo, owner De Mangol saat ditemui Senayanpost.com di lokasi. Kebetulan Bambang bersama keluarga sedang liburan di Yogya sambil mengontrol perkembangan De Mangol dan tempat wisata lainnya yang dimiliki di Yogya.

Selain sejumlah gerai, terdapat bangunan restoran besar, musala luas dan tempat-tempat rondevu yang tersebar dengan kursi-kursi yang ditata melingkari meja. Pada hari kedua Lebaran Idul Fitri, kebanyakan pengunjung berada di pinggir pagar lokasi  "De Mangol"  menunggu sunset,  memandangi Kota Yogya dari ketinggian perbukitan Patuk itu. Senja itu dalam  terpaan semilir angin duduk-duduk berkelompok. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria.

Semua pengunjung tetap menjaga prokes, memakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan dengan sanitizer yang disediakan di pintu masuk. Suhu badan pun diukur oleh petugas dengan sopan dan ramah.

Meski berada di ketinggian tak perlu takut jatuh karena lokasi bermain berpagar kokoh. Rumput hijau lembut menjadi alas di lokasi jalan-jalan bermain itu. Tidak mengkhawatirkan kalau ada anak-anak yang berlarian terjatuh..

Pengunjung yang lelah menyaksikan pemandangan di bawah bisa duduk-duduk menikmati berbagai makanan dan minuman  yang bisa dipesan dengan gampang. Para pramusaji membawa daftar menu makanan menghampiri pengunjung.

"Mau pesan apa bapak-ibu? Silakan pilih dan tulis, sebentar nanti saya ambil ini," sapa pramusaji dengan sopan sambil menyodorkan kertas pemesanan.

Di satu sudut lokasi terdapat panggung kecil tempat seorang pemusik bernyanyi dengan iringan gitar. Pengunjung boleh request lagu atau menyanyi sendiri. Live music berkumandang bening ke seantero De Mangol melalui pengeras suara yang dipasang di sejumlah tempat.

Malam tiba, lampu-lampu warna-warni berpendar di lahan sekitar 4 hektare itu. Di kejauhan lampu-lampu kota Yogya pun nampak berkelip di kejauhan. Dari ketinggian De Mangol ini pula terlihat lampu-lampu mobil di jalanan yang sedang mendaki atau menuruni perbukitan Pathuk.

Bagi yang tak tahan embusan angin, malam, bisa masuk ke restoran indoor yang luas di tengah lokasi. Restoran dengan arsitektur modern ini di nusim pandemi covid-19 ini  menerapkan prokes ketat tapi tetap nyaman.

Pengunjung datang dari berbagai kota. Terlihat mobil-mobil berplat nomor B, H, L, AD, AA, AE, dan tentu saja AB di tempat parkir luas di depan taman. Demikian juga ratusan motor yang terparkir juga berplat nomor dari berbagai kota.

Tak jauh dari lokasi itu juga di bukit Pathok ada lokasi wisata semacam lainnya. Pengunjung juga lumayan banyak, tapi ketersediaan tempat duduk dan kongkow di De Mangol lebih banyak.

"Kami sengaja membuat pengunjung nyaman menikmati udara sejuk di sini mas," kata Bambang Utomo, sang owner yang asli Tulungagung, Jawa Timur itu. 

Bambang Utomo berniat akan terus menyempurnakan De Mangol agar dapat lebih memanjakan pengunjung. Walaupun  diakui membangun di ketinggian seperti ini  tidaklah mudah dan harus dengan bangunan  dengan konstruksi yang kuat. 

"Di ruang terbuka ini dulunya ada atap mirip sunroof yang tembus pandang. Tapi terempas angin bersama dua balon besar saat ada puting beliung, di sini," ujarnya mengenang.

Karena itu bangunan yang ada sekarang dibuat sekokoh mungkin. Dibangun dengan waktu yang relatif cepat, bak Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam. "Hanya dalam waktu empat bulan semuanya selesai," cerita Bambang Utomo, sarjana Teknik Mesin itu.

Wow hanya empat bulan? "Ya, karena pekerjaannya ada dua shift. Jadi ada yang siang dan ada yang malam. Sampai pukul 11 malam,"  jawab Bambang yang mengerjakan proyek ini dibantu sepenuhnya oleh istri tercintanya.

Tentu untuk mewujudkan De Mangol yang ideal masih perlu waktu. Dia ingin membangun resort di lahan yang masih tersisa, terutama untuk wisatawan manca negara negara yang ini menginap di sini. Karena selain lokasi wisata ini Bambang juga sudah membangun Merapi Park di lereng Merapi yang cukup populer di Yogya, juga sedang mengembangkan objek wisata di pantai di Gunungkidul dan akan segera memulai pembangunan resort di Gunung Bromo, Malang. (Bersambung).