Dan, Teganya Meninggalkan Teman-temanmu

Dan, Teganya Meninggalkan Teman-temanmu
Daniel Dhakidae

Oleh: Peter Hagul

KAMI BERTEMU ketika sekolah di seminari Mataloko tahun 60-an. Dan satu tahun di atas saya. Dia pemain biola yang handal. Suara baritonnya menggema. Tapi, tidak diteruskannya. Bisa kecanduan dan lupa yang lainnya, itu pengakuannya.

Perjalanan kami dilanjutkan ke Ritapiret. Saya cuma bertahan 14 bulan. Daniel lebih lama dua tahun, akirnya keluar juga melalui pergulatan dengan sistem pendidikan imam yang menurut dia sudah ketinggalan zaman.

Kami bertemu lagi di Gadjah Mada. Dan di Sospol saya di Sastra. Pada masa post Sukarno dan mulainya Soeharto, mahasiswa melihat banyak ketimpangan dalam penyelenggaraan negara. 

Di banyak universitas termasuk UGM, ada banyak kelompok diskusi, termasuk di Sospol. Berkat dukungan dana pribadi Romo Deportere SJ yang waktu itu moderator PMKRI diterbitkan majalah mingguan SENDI yang dipimpin Ashadi Siregar dengan redaksi Daniel, Parakitri Simbolon, dan saya. 

Salah satu topik yang panas adalah Taman Mini yang oleh sebagian orang hanya menghamburkan uang rakyat. Beberapa tulisan di SENDI begitu keras sampai memplesetkan mukadimah UUD. SENDI langsung dibreidel setelah terbitan yang ke-13. 

Daniel masih mengikuti diskusi dengan kelompok di Jakarta yang membuatnya terpantau dalam radar intel. Dan membayar mahal untuk itu. Dia diturunkan dari pesawat dalam perjalanan yang akan membawanya ke Jerman untuk sesuatu yang tidak saya ketahui (mungkin seminar atau kursus).

Setelah tamat dari UGM, dia bekerja di Prisma. Beberapa kali saya jumpai dia kalau saya ke Jakarta. Dia bilang ke saya, "Saya sekarang tidak sarapan lagi.  Cuma makan roti dan telur". Begitulah Dan, kadang-kadang bisa kelakar dan tertawa panjang.

Dia selanjutnya mendapat kesempatan untuk kuliah di Cornell dan mendapat gelar doktor dengan predikat cum laude (mungkin lebih). Ketika dia kembali, saya ajak dia makan di restoran. Dia pesan makanan mahal (untuk dompet saya), sampai saya harus pulang ke kantor pake bus. Kelakuan seperti ini ada di semua orang SENDI. Pak Ashadi yang mendapat honor cerita bersambungnya di Kompas juga dirayu untuk mentraktir teman-temannya.

Dan kemudian menjadi Kepala Litbang Kompas. Beberapa kali saya mengunjunginya  di ruang kantornya yang mewah. Setelah pensiun dari Kompas, dia menghidupkan kembali PRISMA sampai akhir hayatnya. Dia menulis beberapa buku, salah satunya diulas oleh beberapa rekan di FB.

Dan juga terpesona dengan Soekarno dan menerbitkan satu nomor khusus untuk Soekarno. Dia bilang ke saya dan teman teman bahwa dia pernah mimpi bertemu Soekarno. Dia juga bolak balik ketemu Ibu Mega.

Dia mengaku terus terang, bahwa buku-buku yang ditulisnya memerlukan kerja keras dan pengorbanan, bahkan beberapa kali hampir putus asa.

Hobinya nonton bola kaki. Dia sebut istilah catenacio, dan saya terpaksa cari di kamus artinya apa. Saya tanya, hobi nonton bola tapi tidak bisa bermain? Dia jawab, "saya renang dan yoga".

Setiap kali bertemu, dia nampak sehat, lebih sehat dari saya. Itu yang membuat saya sangat amat terkejut pagi inj.

Masih banyak yang bisa dikisahkan termasuk akrabnya dia dengan Umbu Landu Paranggi yang hari ini (kemarin--Red) meninggal di Bali.

Selamat jalan Dan.