Catatan Wisata Sehat ke Taiwan (1) : Tzu Chi Hospital, Rumah Sakit Modern Melayani Sepenuh Hati

Catatan Wisata Sehat ke Taiwan (1) : Tzu Chi Hospital, Rumah Sakit Modern Melayani Sepenuh Hati

Pagi cerah. Dingin menyelinap ke tubuh walau sudah berjaket tebal. Sebanyak 74 orang di dalam dua bus meninggalkan Reverview Hotel melintasi Kota Taipei menuju Tzu Chi Hospital. Itulah rombongan besar Jenderal TNI Purn AM Hendropriyono.

Tokoh intelijen ini memboyong kawan-kawannya alumni Akademii Militer Nasional (AMN) Angkatan 1967, keluarga besar dan kawan-dekatnya.

“Kita berobat ya. Kalau ada yang perlu tinggal di sini untuk perawatam silakan saja, kata Pak Hendro di atas bus menjelang memasuki halaman Tzu Chi Hospital itu. Enam di antara rombongan menggunakan kursi roda.

Tiba di rumah sakit, ada penyambutan yang luar biasa. Pimpinan TCH, puluhan dokter, dan tenaga medis dengan wajah-wajah ceria penuh keramahan berbaris mengucap Selamat Datang sambil bertepuk tangan.

Setelah berlangsung penyambutan sejenak di auditorium, anggota rombongan langsung dipandu memasuki bagian pemeriksaan. Ada yang melakukan general check up, diabetes, jantung, kanker, ortopedi, dan lainnya. Sejumlah relawan dari Taipei maupun para mahasiswa asal Indonesia membantu kami berkomunikasi dengan dokter dan tenaga medis, karena umumnya mereka menggunakan bahasa Mandarin.

Tzu Chi Hospital, Taiwan

Super intendant TCH dr Mayjen Zhao memberi sambutan selamat datang. Dibalas sambutam AM Hendropriyono sebagai pemimpin rombongan.

“Kami dengan sepenuh hati melayani bapak ibu di sini,” kata Jessica, mahasiswi di unit komputer Universitas Tzu Chi. Dia sudah dua tahun di Taipei dan berasal Jakarta, tapi sudah fasih berbicara Mandarin.

Semua anggota rombongan merasakan layanan yang prima. Kebersihan rumah di gedung 17 lantai oti samgat terjaga.

“Di semua tempat nggak bau obat,” komentar Rijanta, salah satu amggota rombongan. Kamar kecil juga dinilai sangat bersih.

Sajian sarapan pagi dan minuman produk Starbuck. Makan siangnya pasien menikmati olahan rumah sakit model begetarian. “Ini Starbuck pertama yang vegetarian,” Mr Lee, relawan asli Taipei memberi penjelasan.

Tadinya ragu berada di kawasan TCH seluas 40 hektare itu. “Bagaimana nanti shalat dhuhur dan asarnya,”. Ternyata di rumah sakit milik yayasan Budha itu tersedia mushalla lengkap dengan sajadah dan mukenamya. “Di kamar mayat juga ada tempat doa untuk jenazah muslim,” jelas Jessica.

Dari kamar pemeriksaan satu ke kamar pemeriksaan lainnya diantar. Dokter segera mewawancara dan menjelaskan kepada para pasien berikut pola hidup dan makan yang disarankan kelak setelah kembali ke Indonesia.

Anggota rombongan merasa puas. Di samping mendapat layanan yang baik juga diberi obat untuk 30 hari. “Kalau obat habis dan masih diperlukan obat, bisa dicari di Indonesia obat sejenis,” ujar dokter Zhi.

Walhasil sekitar pukul 16,00 waktu setempat proses pemerilksaan dan pengobatan sudah selesai. Alhamdulillah tak satu pun rombongan pasien dari Indonesia itu yang tertinggal. Padahal sebelumnya Pak Hendro memprediksi ada lima atau enam pasien yang harus tinggal dirawat di rumah sakit ini. (Bersambung)