BMKG Deteksi Keberadaan Fenomena La Nina, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

BMKG Deteksi Keberadaan Fenomena La Nina, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Ilustrasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memonitor terjadinya fenomena La Nina lemah yang cukup berpotensi meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa La Nina cukup berpengaruh terhadap peluang curah hujan di Indonesia, tetapi ini bukan badai.

"Kami mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi curah hujan lebih tinggi akibat kondisi La Nina. Tapi, La Nina ini bukan badai tropis ya," kata Dwikorita dalam Konferensi Pers, Senin (18/10/2021).

La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi. Dwikorita menjelaskan, fenomena La Nina terjadi ketika Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.

Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah. Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia.

Hal ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat. Karena massa air hangat berpindah tempat, maka air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Hal ini disebut upwelling dan membuat SML turun. Sehingga, La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson.

"Dengan kata lain, Indonesia saat ini lebih hangat, di sana lebih dingin, sehingga terjadi anomali atau perbedaan. Secara teori apabila perbedaan itu mencapai minus 0,5 maka itu dinyatakan sebagai ambang batas terbentuknya La Nina," jelasnya.

Lebih lanjut, hal ini akan menyebabkan terjadinya aliran massa udara basah, tetapi bukan sirkulasi yang kencang seperti terjadinya badai tropis.

Dampak La Nina terhadap Indonesia

Pasokan aliran massa udara dari Samudera Pasifik menuju ke wilayah Kepulauan Indonesia mengakibatkan terjadinya peningkatan curah hujan, karena akan meningkatkan pembentukan awan-awan hujan dengan tambahan massa udara basah.

Di mana akhirnya penambahan pembentukan awan-awan hujan dan massa udara basah tersebut, akan meningkatkan pula curah hujan.

"Berdasarkan hasil monitoring, La Nina lemah, meskipun masih lemah, namun harus waspada bila nanti menjadi moderat, maka dampaknya akan lebih dari saat ini," kata dia.

La Nina ini umumnya akan berdampak pada curah hujan tinggi dan berisiko meningkatkan peluang terjadinya ancaman bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah rawan.

Oleh karena itu, Dwikorita mengingatkan agar masyarakat dan pihak-pihak berwenang dapat meningkatkan mitigasi terhadap risiko bencana hidrometeorologi.

Beberapa bentuk bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi adalah longsor, banjir, banjir bandang, jalan licin, pohon tumbang, dan lain sebagainya.

Sebab, berdasarkan pembelajaran dari fenomena La Nina di tahun 2020 lalu, hasil kajian BMKG menunjukkan bahwa curah hujan mengalami peningkatan pada bulan November, Desember hingga Januari akibat fenomena La Nina ini.

Terutama di wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian Selatan, dan Sulawesi bagian Selatan, yang mengalami peningkatan curah hujan berkisar 20 hingga 70 persen di atas normalnya.

Dwikorita berkata, ini diprediksikan memiliki dampak yang relatif sama dengan tahun lalu yang diikuti dengan berbagai bencana hidrometeorologi secara sporadis di berbagai wilayah yang terdampak, dengan adanya potensi peningkatan curah hujan pada periode musim hujan tersebut.

"Sekali lagi maka kami meminta untuk seluruh pihak, perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjut dari curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," ujarnya.