Bid‘ah Terbaik

Bid‘ah Terbaik

SELAMA Rasulullah Saw. masih hidup, beliau melaksanakan shalat sunnah pada malam-malam bulan Ramadhan secara sendirian, tidak berjamaah, kecuali pada beberapa hari saja. Kemudian, selepas beliau berpulang ke hadirat Allah, orang-orang tetap melaksanakan shalat tersebut secara perseorangan dan tetap tidak secara berjamaah. Keadaan itu berlangsung selama masa pemerintahan Abu Bakar Al-Shiddiq dan permulaan masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab.

Lantas, suatu malam di bulan Ramadhan, ‘Umar bin Al-Khaththab dan beberapa sahabat Rasulullah Saw. pergi ke Masjid Nabawi. Ketika mereka tiba di masjid tersebut, mereka mendapatkan orang-orang sedang melaksanakan shalat dalam kelompok-kelompok yang beragam: ada seorang pria yang sedang melaksanakan shalat sunnah sendirian dan ada suatu kelompok kecil sedang melaksanakan shalat sunnah secara berjamaah. 

Melihat hal yang demikian itu, khalifah kedua dalam sejarah Islam yang juga mertua Rasulullah Saw.-dan memeluk Islam pada tahun keenam dakwah Islam-itu pun berkata kepada ‘Abdurrahman Al-Qari, “‘Abdurrahman! Menurutku, lebih baik orang-orang itu disuruh berkumpul dan melaksanakan shalat bersama dengan seorang imam!”

Malam itu juga, tokoh yang terkenal pemberani dan ikut terlibat dalam berbagai pertempuran dan peperangan semasa Rasulullah Saw. hidup itu pun menunjuk Ubay bin Ka‘ab sebagai imam shalat tarawih secara berjamaah. Kemudian, beberapa malam selepas itu, ‘Umar Al-Khaththab pergi ke Masjid Nabawi lagi bersama beberapa sahabat. 

Ketika tiba di masjid tersebut, ia melihat orang-orang sedang melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. Melihat hal itu, khalifah yang bernama lengkap Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdul-‘Uzza Al-Qurasyi itu pun berkata, “Inilah bid‘ah yang terbaik! Akan tetapi, shalat yang belum mereka lakukan selepas tidur tetap lebih baik ketimbang shalat yang sedang mereka laksanakan itu!”