Bertemu Gus Baha Lagi

Bertemu Gus Baha Lagi
Fauzi Rahman

Oleh: Fauzi Rahman

BEBERAPA WAKTU LALU penulis bertemu kembali dengan mas Baha, begitu saya memanggilnya dulu sebelum populer dengan panggilan Gus Baha.

Tahun 1999 - 2003 masih sering ketemu dirumahku Tegalasri pinggir kalicode, terahir kerumah kalau tidak salah setelah beliau menikah dengan  salah satu puteri keluarga pesantren tertua di Jawa Timur, yaitu pesantren terkenal SIDOGIRI pasuruan, Istrinya cantik sekali karena menurut Gus Baha istri kyai harus cantik

GUS BAHA bagi saya memang sosok yang "ajaib" dari sisi keilmuannya sejak belia, apalagi ditopang oleh nasab yang sangat terpelihara dari kakek buyutnya sampai ayahnya yang hafal al-Qur'an, bahkan bukan sekedar hafal tapi juga paham dan menguasai makna dan tafsirnya. Maka tidak sombong atau berlebihan kalau cita-cita Gus Baha adalah Wali dalam makna yang sesungguhnya yaitu karena menguasai memahami  al-Qur'an dan segenap piranti ilmu penopangnya

KETIKA bertemu kembali beberapa waktu lalu Gus Baha sudah dalam posisi sangat populer dIjagad Youtube dalam hal keilmuan, tetapi Gus Baha  ternyata tidak lupa dengan kepingan sejarahnya yang tercecer dipinggir kalicode pada tahun 2-000an, kita tetap ngobrol bebas disertai canda tawa bak sumur yang tidak pernah kering dalam 'kosa kata" orang-orang pesantren, bahkan ditengah banyaknya tamu yang sowan beliau  tetap mengeluarkan lelucon atau joke-joke yang membuat para tamu tertawa bahagia bahka ngakak bareng.

Karena tahu kalau saya keturunan Sumenep Madura maka beliau membuat lelucon tentang kekonyolan sekaligus kecerdasan orang madura. Kisahnya bahwa ada cekungan tanah cukup dalam milik orang, lalu dengan orang madura ditimbun tanah baru sampai rata bahkan sampai tinggi, lalu sipemilik tanah ini datang marah-marah dan komplain bahwa itu tanah miliknya.

Simadura dengan entengnya  atau ringannya  menjawab, beeh ..... tanahmu kan yang dicekungan bawah, yang atas ini tanahku, silahkan kalau mau dipakai tanahmu yang dibawah dan aku pakai yang diatas dengan logat khas madura, tentu para tamu ketawa semua, dalam konteks candaan gaya madura ini saya ikut mengeluarkan beberapa humor orang madura dihadapan banyak tamu , tapi dalam tulisan ini tidak perlu saya utarakan karena tulisan ini hanya untuk menceritakan Gus Baha.

Setelah itu penulis secara eksklusif sempat diajak ke ruang pribadinya yang penuh dengan kitab-kitab bacaannya, dan penulis tidak melihat ada satu bukupun yang berbahasa Indonesia dan bahasa lainnya selain kitab berbahasa arab Kitab Tafsir, fikih dan tasawuf berjejer dengan pengelompokan yang sangat rapiketika sampai pada pengelompokan kitab tasawuf Gus Baha bilang begini: 

Mas Fauzi, kitab-kitab tasawuf ini tidak terlalu sering saya baca, tuturnya

Kenapa gus?

Abot ( berat) melaksanakan dan mempraktekkannya, meskipun saya tahu Gus Baha hanya ingin merendah saja, karena penulis yakin  tindakan dan maqom Gus Baha dalam kesehariannya sudah "melampaui" apa yang beliau ucapkan, bahkan  bisa saja lebih sufi dan lebih wali dari yang lainnya KH.Ahmad Bahaudin Noer Salim begitu nama lengkapnya yang sekarang masyhur dengan sebutan Gus Baha memang dilahirkan  dari keluarga yang memiliki tradisi kuat dalam menghafal dan memahami al-Qur'an, dari buyutnya, kakeknya sampai ayahandanya KH. Noer Salim hapal dan paham isi al-Qur'an dan begitu fasih menafsirkannya.

KETIKA masih muda Gus Baha menjadi santri  pesantren Al-Anwar dan sekolah di madrasah Al- Ghozaliyah Sarang, Rembang yang dipimpin dan diasuh oleh ulama besar dan kharismatik KH.Maimoen Zubair atau Mbah Moen. Gus Baha ketika dipesantren intens terlibat melakukan kajian dan  diskusi berbagai cabang dan disiplin ilmu keislaman Khusus kitab alfiah yang merupakan kitab nadhom bukan prosa tentang gramatika bahasa arab bersama santri lainnya terutama Gus Wafi yang merupakan adik kelasnya sekaligus putera dari mbah Moen mengadakan diskusi rutin harian khusus alfiah sehingga pada tahun 1998 melahirkan buku KHAZANAH ANDALUS : Menguak karya monumental Alfiah Ibnu Malik ulama besar dari Andalus,Spanyol.

Buku inilah yang mempertemukan penulis dengan Gus Baha pertama kali dijogja pada tahun 1999 melalui karyawan saya Ahmad Muwaffaq yang sudah saya anggap seperti adik sendiri yang beberapa tahun lalu sudah almarhum. Buku ini ahirnya diterbitkan penerbit Titian Ilahi Press ( Gus Baha sering menyebutnya TIP) sebagai penerbit yang saya rintis sejak tahun 1993.

Gus Baha dari muda memang sdh hafal al-Qur'an dan memahaminya dengan baik apalagi juga ditopang oleh hafalan hadits dan kitab- kitab fikih dari ulama  besar terdahulu, termasuk kitab alfiah yang berisi seribu bait beliau juga hafal, untuk itu beliau sangat piawai dalam menganalisa teks al-Qur’an dan al-Hadits karena benar-benar menguasai Arabic Grammar sebagai pisau analisanya teksnya. Sekarang Gus Baha sudah menjadi ulama besar dengan segala kepolosan kata dan sikapnya, ceramah-ceramahnya yang ceplas ceplos telah menghipnotis sehingga melahirkan gairah dan warna baru dikalangan kaum muslimin Indonesia.

Pendapat-pendapat Gus Baha membuat umat Islam tercerahkan, rileks dan asyik dalam beragama, tidak menakutkan dan tidak mudah menvonis orang lain sebagai kafir seperti yang ahir-ahir ini marak dinegeri ini yang seakan apa yang dilakukan umat Islam semua bid’ah, semua sesat dan semua masuk neraka

Meskipun Gus Baha sudah sangat terkenal “melampaui” ulama atau ustadz lainnya tapi kesehariannya tetap seperti yang penulis kenal 23 tahun lalu yang sederhana,polos dan penuh canda. Ada ciri khas yang masih penulis kenang dari Gus Baha, yaitu pertama selalu merendahkan dan menundukkan pandangan apabila bertemu dan berbicara dengan lawan jenis (wanita), tapi tetap tidak mengurangi kualitas keakraban percakapan dengan lawan bicaranya, ini saya saksikan kalau sedang berbincang dengan keluarga saya, kedua adalah cara berpakaian dari dulu sampai sekarang tidak berubah yang sarungan dan kopiahan, dan cara pakal kopiahnya khas seperti yang kita kenal sekarang

Alhamdulillah dengan segala popularitasnya Gus Baha tetap hidup sederhana di pesantrennya Tahfidul Qur'an LP3IA , Lembaga Pembinaan dan Pendidikan Pengembangan Ilmu Al-Qur'an di desa Narukan, Rembang bersama istri tercintanya dan 3 putra putrinya. Semoga Allah selalu melindungi beliau karena umat Islam dan para ssntrinya sangat butuh ilmu dan pencerahannya.

* Penulis adalah Alumni pesantren Raudlatul Muta'allimin Situbondo dan Nurul Jadid Paiton Probolinggo serta Fak Syarian UIN SUKA Jogjakarta.