Bertemu Arsene Wenger, Sang Professor Arsenal

Bertemu Arsene Wenger, Sang Professor Arsenal
Taufiq Hadad dan Arsene Wenger

Oleh: Taufiq Hadad

DARI SINI saya mulai mengerti makna fans club sepakbola dan fanatismenya, langsung dari tempat asal mulanya sepak bola berkembang. “Footballs' coming home”, itulah klaim yang sering terdengar yang dilontarkan suporter Inggris saat bertanding di kejuaraan, agar gelar juara dan sepakbol kembali ke negeri asalnya.

Di rumah, saya dan anak-anak semuanya Liverpudlian, fans fanatik Liverpool. Jadi misalkan kalau ada tim pesaing Liverpool sedang bertanding, seperti MU, City, kami pasti dukung tim lawannya. Kami berharap tim lawan dapat menjungkalkan mereka, yang selama ini menjadi musuh abadi, dan penghalang Liverpool di liga. Fans sepakbola adalah salah satu contoh nyata fanatisme.

Begitu saya tiba di depan Emirates Stadium, tiba – tiba seorang bertinggi besar, yang sangat saya kenal lewat begitu saja di depan saya. Rupanya Arsene Wenger, pelatih terkemuka Arsenal selama 22 tahun (1996-2018).

Ia lewat tanpa ada pengawalan khusus. Jalannya sangat cepat. Beberapa orang nyaris tak menyadari kehadirannya. 

Saya pun mengejar dan memanggilnya. Ia pun berhenti sejenak. Setelah memperkenalkan diri dan basa-basi singkat, saya pun meminta izin berfoto bersama. Meski nampaknya agak terburu-buru, ia berkenan dan meluangkan waktu. Kami pun akhirnya foto bersama. 

Begitu terdengar kabar kehadiran Arsene Wenger, pengunjung lain berkerumun, ingin juga bisa mengambil foto, tapi ternyata sang profesor tengah bergegas dengan langkah cepatnya. 

Alhasil, saya termasuk yang beruntung dapat mengabadikan momen tersebut diantara kerumunan orang lainnya yang ingin juga berfoto bersama Arsene Wenger.

Headline Twitter, 22 Oktober mengucapkan selamat ulang tahun kepada Arsene Wenger, yang tengah berulangtahun ke-72. Di tengah nasib dan perjuangan klub Arsenal yang kini terseok-seok di liga Inggris sejak kepergiannya. 

Di tangan Wenger, Arsenal menjadi salah satu klub ternama di Inggris, juara liga yang tak terkalahkan di musim tahun 2004, dengan bintang sepakbola ternamanya seperti Thiery Henry, Jens Lehman dan lain-lain.

Dengan segala prestasinya itu, ia pun mendapat julukan Profesor (guru besar). 

Selamat ulang tahun, Prof.

* Taufiq Hadad, penulis traveler, penggemar sepakbola.