Berpulangnya Mas Sar, Tokoh Ketoprak Serba Bisa

Berpulangnya Mas Sar, Tokoh Ketoprak Serba Bisa
Purwadmami

Oleh: Purwadmadi

MAS Sar, demikian tiap kali saya ngaturi Mas Sardjono, yang kemarin (26/7/2021) berpulang. Di kalangan pelaku kethoprak, Mas Sar banyak diaturi dengan sebutan Pakdhe Sar. Artinya Mas Sar tokoh yang dituakan. Dihormati dan diteladani kaum muda seprofesi. Mas Sar, seorang pelaku kethoprak senior yang pandai membawa diri dan menempatkan diri. 

Di panggung kerhoprak, Mas Sar dikenal luas mampu memainkan peran apapun. Peran-peran mrabu, memainkan raja (ratu) agung, seperti Hanyokrokusumo, Hadiwijaya, Anglingdarma, Hamengku Buwono I (yang Mas Sar mainkan luar biasa di kethoprak Benteng Rotterdam di TVRI Yogyakarta, 2018-2019-2029). Jadi ratu Mas Sar sudah langganan. Memainkan resi penasihat istana, Mas Sar pun piawai (seperti jadi Juru Mertani/Mandaraka). Peran sepuh yang alim, santun, sabar, wicaksana menjadi karakter khas yg sering dimainkannya. 

Namun Mas Sar tipe pemain serba bisa. Menjadi bambangan alus (misal Panji Amarabangun, Damarwulan), menjadi bambangan gagah seperti Manggalayuda Sudira, dan memerankan kesatriya keras hati seperti Arya Penangsang, bagi Mas Sar diterimanya sebagai tantangan yg harus dijawab. Juga menjadi senapati agung, seperti peran Ranggalawe, bisa dimainkannya. Bahkan Mas Sar juga sanggup bermain sebagai brasak, warok, bandit, peran ngeyel julig antogonis seperti Patih Pringgoloyo, Dawil Kasut, pun hal biasa. 

Hebatnya, Mas Sar tidak ada hambatan jikapun harus nembang. Tak jarang Mas Sar dimainkan sebagai prajurit biasa, atau wong cilik pedesaan. Uniknya, Mas Sar juga bisa didadak memainkan abdi yang harus berperan pula sebagai dagelan. Mas Sar, juga pintar bikin humor. Ini jelas terlihat ketika Mas Sar bertahun tahun menulis naskah dan menjadi pemain di Pangkur Jenggleng TVRI Yogyakarta bersama Ngabdul dan Melko, dan ketika keduanya meninggal Mas Sar salah seorang yg mokoki di Pangkur Jenggleng. 

Sejak usia 13 tahun, Mas Sar sdh naik panggung. Bakatnya menurun dari ayahnya Parimin Ronowidarso. Sejak usia itu pula Mas Sar mengaku menggantungkan hidupnya dari mengethoprak. Lahir 2 Desember 1947 di Yogyakarta.Tahun1982 pada usia 35 tahun, beruntung diangkat sebagai PNS tenaga kesenian di RRI Yogyakarta. Mas Sar makin dikenal luas sebagai pemain kethoprak RRI Yogyakarta. Sebelumnya Mas Sar matang di kethoprak tobong. Kethoprak Pancabakti, 1967. Dahono Mataram 1968. Budi Rahayu, 1969. Wirabudaya, 1970. Wargo Mulyo, 1975. Sinar Mataram, 1977. RRI Yogyakarta pensiun 2004. Mas Sar juga sangat dikenal cucut dalam wicara, sehingga adegan debat tokoh yg dimainkan Mas Sar dengan lawan debat Pak Ign Wahono atau Mas Widayat ditunggu tunggu penonton. Bahkan adegan debat tanpa naskah sekalipun. Kalimat meluncur tangkas di atas panggung.  

Selain ikut menggawangi Pangkur Jenggleng, Mas Sar juga terlibat sebagai pemain di Kethoprak Tjap Tjonthong bersama Marwoto dan Susilo Nugroho. Di kedua agenda itu, selain sifat sikap kebapakannya, Mas Sar juga pintar bermain humor. 

Disebut dipanggil Pakdhe oleh para yuniornya sangat mungkin karena Mas Sar seorang yang sabar, temuwa, ngemong, lapang dada, dan menghargai orang lain. Anak anak muda kethoprak belum berpengalaman, apabila bermain bersama Mas Sar sangat terbantu karena sikap ngemongnya. 

Tahun 2015 ketika saya duduk bersanding menunggui latihan kethoprak di rumah Mas Gatot Mudjiono, Mas Sar berkata lembut, " ... momong ngancani kanca-kanca kethoprak kedah sabar." Beruntung pula ketika saya bersama Bung Khocil Birowo menulis buku Profil Seniman Budayawan#13 (TBY, 2014) berkesempatan memilih sbg salah satu tokoh yang ditulis.

 Penerima Penghargaan Seni Gubernur DIY ini juga menjadi salah satu narasumber film dokumenter Kethoprak Radio (2015) bersama Mas Widayat dan mBak Marsidah. Film doku itu saya sutradarai. Mas Sar, tokoh kethoprak yang sabar dan santun. Juga, punya rasa humor. Sugeng tindak Mas Sar. Swarga langgeng.

* Drs. Purwadmadi, Budayawan, Lulusan IKIP Negeri (sekarang UNY) Yogyakarta.