Berpuasa di Hari yang Sangat Terik  

Berpuasa di Hari yang Sangat Terik   
Puasa Nabi

SUATU saat Rasulullah Saw. berbincang-bincang dengan beberapa sahabat beliau. Salah seorang di antara mereka adalah Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat beliau yang terlahir dengan nama lengkap Abu Dzar Jundab bin Junadah bin Sufyan Al-Ghifari.

Sahabat yang satu ini semula mewarisi karier ayahnya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melewati jalur perdagangan Makkah-Suriah yang dikuasai suku Ghifar. Meski melakukan perbuatan jahat, hati kecil Abu Dzar sebenarnya menolaknya. Akhirnya, ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang ia miliki. Kaumnya pun ia seru untuk berhenti merampok. Namun, kaumnya marah dan memusuhinya. Ia pun pindah ke Nejd.Bersama ibunya dan saudara laki-lakinya, Unais.

Di tempat yang baru, Abu Dzar Al-Ghifari menghadapi penduduk Nejd yang suka berbuat onar. Ia juga berusaha mengajak mereka kepada kebaikan. Namun, penduduk Nejd malah mengusirnya. Karena itu, ia pun pindah ke sebuah perkampungan dekat Makkah. Di tempat itulah ia mendengar tentang Nabi Muhammad Saw. dan ajaran Islam. Akhirnya, ia menyatakan keislamannya di depan Ka‘bah, Makkah. Sejak itu, sahabat yang hidup sangat sederhana ini membaktikan hari-harinya untuk Islam. Tugas pertama yang diembankan Muhammad Saw. di pundaknya ialah mengajarkan Islam di kalangan sukunya.

Selepas membincangkan berbagai hal, Rasulullah Saw. tiba-tiba berpaling ke arah Abu Dzar, sahabat yang selalu menentang segala bentuk penumpukan harta itu. Beliau kemudian bertanya kepadanya, “Abu Dzar! Jika engkau bermaksud melakukan perjalanan, bukankah engkau melakukan persiapan?”

“Tentu, wahai Rasul,” jawab Abu Dzar. Meski ia belum sepenuhnya tahu ke mana arah pertanyaan Rasulullah Saw. tersebut.

“Lalu, bagaimanakah jika engkau berjalan menuju ke arah Hari Kiamat? Tidak inginkah engkau kuberi tahu, Abu Dzar, persiapan apa yang bermanfaat bagimu untuk menyambut hari itu?” tanya beliau.

“Tentu, ingin sekali, wahai Rasul. Demi ayah dan ibuku!” jawab Abu Dzar. Penuh semangat.

 “Abu Dzar!” tegas Rasulullah Saw., menjelaskan. “Berpuasalah pada hari yang sangat terik, sebagai bekal pada Hari Kebangkitan! Lakukanlah dua rakaat di dalam kekelaman malam,sebagai bekal dalam menghadapi pekatnya kuburan! Tunaikanlah ibadah haji sekali, sebagai bekal untuk menghadapi urusan-urusan besar! Bersedekahlah dengan sesuatu kepada orang miskin.Atau dengan perkataan benar yang engkau ucapkan. Atau dengan perkataan buruk yang engkau tahan untuk tidak engkau ucapkan!”

Dalam hadis lain, Abu Dzar juga pernah menerima pesan Nabi Saw. untuk melakukan tujuh hal: Pertama,mengasihi orang-orang miskin dan mengakrabi mereka.Kedua, melihat orang yang lebih rendah kedudukannya serta tidak melihat orang yang lebih atas darinya.Ketiga, tdak meminta sesuatu pun kepada orang lain. Keempat, melakukan silaturahmi. Kelima, berkata benar meski pahit. Keenam, tidak takut celaan dari orang yang suka mengkitik asal tetap di jalan Allah. Ketujuh, memperbanyak ucapan, “lahaulawalâquwwataillâbillâh”.