Bermimpi Mengaji di Lingkungan Masjid Al-Aqsha Bersama: K.H. Ali Maksum

Bermimpi Mengaji di Lingkungan Masjid Al-Aqsha Bersama: K.H. Ali Maksum
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“LO. Bukankah itu Gerbang Raja Herodes!”

Begitu ucap bibir saya ketika saya mendapatkan diri saya tiba-tiba berdiri di perempatan yang memisahkan antara Salah e-Din St. dan Sultan Suleiman St., Al-Quds alias Jerusalem. Hal itu terjadi dalam mimpi saya pada dua hari yang lalu. Bermimpi karena tidur pulas, selepas menyimak buku tentang perjalanan Mohammad Iqbal, seorang pemikir kondang asal Pakistan, ke langit tujuh: Javid Namah.

Mimpi indah? Tentu saja, karena dalam mimpi itu saya terlempar jauh, ke Jerusalem. Waktu saat itu menunjuk sekitar pukul tiga dini hari. Suasana di sekitar perempatan di antara dua  jalan dekat Gerbang Raja Herodes itu sepi sekali. Tidak ada orang yang lalu lalang. Satu orang pun tidak ada. Tidak jauh dari gerbang itu sebuah panser warna putih milik polisi Israel dan dihiasi bendera negara itu sedang bersiaga penuh. Entah apa yang mau dihadapi panser itu. 

Menyadari berada tidak jauh dari Gerbang Raja Herodes, segera dalam benak saya menggelegak keinginan untuk menapakkan kaki menuju Masjid Al-Aqsha. Dengan langkah pelan, saya pun segera memasuki gerbang itu dan kemudian menelusuri labirin lorong-lorong kecil menuju Masjid Al-Aqsha. Sepanjang perjalanan, saya tidak bertemu siapa pun. Alias sendirian. Ya, sendirian.

Ketika melintasi Via Dolorosa, lorong yang dikatakan sebagai lorong yang dilintasi Nabi ‘Isa a.s. ketika memanggul salib, saya lama mencermati lingkungan itu dan merenung. Dan, kemudian, selepas berjalan sekitar 20 menit, langkah-langkah saya pun kian mendekati gerbang ke arah Kubah Al-Shakhrah dan Masjid Qibli atau Masjid Al-Aqsha.

Dari jauh saya melihat, empat polisi Israel dengan menyandang senjata berdiri di depan pintu. Mungkin karena melihat saya melangkah menuju ke arah mereka, mereka tampak siaga penuh. Apalagi saat itu dini hari yang sepi sekali. Hanya saya sendiri yang berjalan menuju ke arah empat polisi Israel itu.

“Good morning! Selamat pagi!” ucap saya kepada mereka berempat. Begitu langkah kaki saya kian dekat dengan pintu itu.

“Hi man! Where do you come from? Dari mana kau?” jawab salah seorang polisi berseragam hitam dengan senjata diarahkan ke arah saya itu. Dengan nada suara galak dan garang.  

“From Indonesia,” jawab saya. Santai dan percaya diri, karena beberapa kali saya pernah melintasi pintu itu dan menghadapi pertanyaan serupa. Sepengetahuan saya, password “Indonesia” cukup mujarab untuk “membuka pintu itu”.

“Okey, come in. Masuk!”

Begitu melintasi pintu itu, dua petugas keamanan Palestina segera menyegat saya dan bertanya dengan ramah. Tentu saja dalam bahasa Arab, “Kamu dari mana?”

“Dari Indonesia.”

“Ahlan wa sahlan,” ucap dua petugas keamanan itu ramah dan kemudian memeluk saya. “Silakan masuk. Itu banyak orang Indonesia sedang berkumpul di Kubah Al-Shakhrah. Itu ada seorang syeikh sedang memberikan ceramah.”

“Banyak orang Indonesia di Kubah Al-Sakhrah? Ceramah?” gumam saya dalam hati. Bingung dan sangat penasaran, tentu saja. “Lo. Kok mereka dibolehkan berkumpul di dalam kubah itu?”

Mendengar penjelasan dua petugas keamanan Palestina yang demikian, saya pun segera melangkah cepat menuju kubah itu. Segera, dari kejauhan, mencuat sebuah bangunan persegi delapan dan di puncak bangunan itu bertengger sebuah kubah besar berwarna keemasan. Itulah Kubah Al-Sakhrah.

Kubah Al-Sakhrah, apa itu?

Kubah yang satu itu adalah sebuah kubah dalam lingkungan Masjid Al-Aqsha, Bait Al-Maqdis. Catatan sejarah menorehkan, kubah  itu dibangun di bawah pengarahan dua arsitek asal Jerusalem,  yaitu Raja’ bin Hayawah Al-Kindi dan Yazid  ibn  Salam.  Kubah ini dapat dikatakan merupakan cikal bakal  seni  Islami, yang   tujuan   dasarnya  untuk  mengekspresikan   akidah   yang terkandung dalam Alquran. Hal ini seperti tertampilkan pada lokasi   kubah  tersebut,  struktur  bangunannya,   dimensi   dan proporsinya,  bentuk-bentuk  yang terdapat  padanya,  warna-warna yang  menghiasinya,  garis  besar  luarnya,  dan simfoni ruang dalamnya. 

Ide pendirian bangunan tersebut sebenarnya cukup menarik: ide untuk menampilkan lokasi batu yang menjadi tempat awal perjalanan Mi‘raj yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. menuju Sidrah Al-Muntaha, serta untuk melindunginya dari terpaan sinar matahari, hujan, dan hajaran perjalanan hari. Konon, ‘Umar ibn Al-Khaththablah yang pertama kali mengemukakan ide untuk memelihara batu tersebut. Karena itu, ia kemudian memerintahkan pendirian loteng dari kayu di atas batu tersebut. Loteng tersebut tetap bertahan hingga ketika ‘Abdul Malik ibn Marwan mengunjunginya. Penguasa Dinasti Umawiyah itu, dengan pusat pemerintahannya di Damaskus, Suriah kemudian memerintahkan untuk menggantinya dengan sebuah bangunan artistik yang selaras dengan kedudukan batu tersebut dalam kalangan kaum Muslim. 

‘Abdul Malik ibn Marwan mengawali pembangunan bangunan Kubah Al-Shakhrah pada 69 H/688-689 M. Pembangunan kubah ini baru rampung pada 72 H/691-692 M. Bangunan kubah ini merupakan sebuah ruangan lapang yang terdiri dari delapan sisi. Di atasnya terdapat sebuah kubah bundar yang indah yang tegak di atas struktur dari kayu. Bangunan ini, baik dari dalam maupun luar, diplester. Bagian dalam kubah dihiasi dengan ornamen-ornamen Byzantium yang sangat menawan, sedangkan bagian luarnya diberi warna keemasan. Al-Shakhrah tegak di dalam bangunan yang dikelilingi lingkaran bukaan dan tegak di atas lengkung-lengkung  lancip serta berada di atas tiang-tiang dan penyangga-penyangga dari pualam. 

Begitu langkah-langkah saya sampai di bangunan yang berbentuk segi delapan bak kristal yang  menggambarkan bumi, berlapis emas, dan memiliki tinggi dan garis tengah sekitar 25  meter  itu, saya pun segera menuju pintu di sebelah kanan dari arah saya datang. Sebelum memasuki bangunan itu, karena udara terasa dingin, sekitar 19 derajat celcius, saya pun menutupi muka saya dengan kafiyeh.  Dan, begitu langkah saya menapaki bagian dalam bangunan, mâ syâa Allâh, saya melihat banyak orang Indonesia sedang mendengarkan pengajian yang diberikan seseorang yang duduk di atas kursi.

Begitu mencermati mereka, betapa kaget saya. Orang yang memberikan pengajian itu, ternyata, adalah seorang kiai kondang yang sangat saya kenal, K.H. Ali Maksum, seorang mantan Rais Am Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ternyata pula, orang-orang yang duduk di sebelah kanan kiai yang ahli tafsir Alquran itu adalah sejumlah kiai, ilmuwan, dan tokoh. Antara lain K.H. Abdul Hamid dari Pasuruan, seorang kiai yang terkenal tawadhu’,  dan Prof. Dr. A. Mukti Ali, seorang mantan Menteri Agma Republik Indonesia. Tampaknya, mereka adalah para kiai dan pakar yang pernah menjadi sahabat dan murid menantu K.H. Munawwir itu, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta itu ketika mereka menimba ilmu di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. 

Sementara orang-orang yang duduk di depan kiai yang putra seorang kiai asal Lasem, Jawa Tengah, saya lihat sejumlah kiai terkemuka dari seluruh penjuru Indonesia. Dan, orang-orang yang duduk di sebelah kiri beliau adalah para petinggi dan tokoh Nahdlatul Ulama yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Termasuk Gus Dur, Gus Mus, Said Aqil Siraj, Yusuf Muhammad, Masdar F. Mas’udi, Syihabuddin Qalyubi, Habib Syarif Muhammad, Yahya Cholil Staquf, dan lain-lainnya. 

Saya pun diam-diam bergabung dengan kelompok terakhir itu. Tidak ingin mengganggu pengajian yang sedang berlangsung, selepas mengucapkan salam dengan suara pelan, saya pun duduk di belakang Kang Masdar F. Mas’udi. Mâ syâa Allâh, ternyata, K.H. Ali Maksum saat itu sedang memberikan pengajian tentang “Larangan Mengangkat Pejabat yang Ambisius” dari Kitâb Riyâdh Al-Shâlihîn, karya seorang ulama terkemuka abad ke-7 H/13 M, Imam Al-Nawawi: pengajian yang memikat yang senantiasa saya ikuti selama lima kali bulan Ramadhan, ketika saya masih menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak. Semua yang hadir begitu khidmat mendengarkan pengajian yang disajikan dengan menawan dan sangat membuka wawasan. Pengajian yang senantiasa saya rindukan. Hingga kini. 

Usai memberikan pengajian, tiba-tiba K.H. Ali Maksum mengarahkan pandangannya kepada Gus Mus. Lantas, tanya beliau kepada putra K.H. Bisri Mustofa, Rembang itu dengan nada penuh wibawa, “Mustofa! Mengapa kamu pernah menolak tawaran untuk menjadi Rais Am Syuriyah PBNU. Bukankah kamu pernah memaksa aku menduduki jabatan itu, dengan menunggu seharian penuh duduk di depan pintu kamarku?”

“Nyuwun sewu. Kiai. Mohon maaf, Kiai,” jawab Gus Mus. Dengan suara pelan dan gemetar seraya menundukkan kepala. “Saya tidak pantas menduduki jabatan itu. Masih banyak para kiai sepuh yang lebih layak dan pantas dari pada saya untuk menduduki jabatan yang berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. kelak. Bukankah tadi Kiai dengan indah menjelaskan, Rasulullah Saw. melarang kita mengangkat pejabat yang ambisius. Saya khawatir, dalam hati saya ada sebutir ambisi dan riya’ ketika menerima jabatan itu. Nyuwun sewu Kiai, saya tidak kuasa menerima jabatan itu.”

“Benar sikapmu itu. Meski kadang jiwa senimu mencuat, tapi kamu cukup bijak. Kiranya Allah Swt. memberkahi sikap dan langkahmu, Mustofa.”

“Amîn yâ Mujîb Al-Sâilîn, Kiai. Matur nuwun sanget, Kiai. Kersoho Kiai senantiasa mendoakan saya.”

“In syâa Allâh, saya akan selalu mendoakan kamu. Namun, jangan lupa tetap mendaras Kitâb Riyâdh Al-Shâlihîn.”
“Inggih, Kiai.”

Usai berbincang dengan Gus Mus, pandangan kiai kondang dengan sosok yang tinggi besar dan pancaran mata yang begitu  tajam itu kemudian terarah lama kepada Said Aqil Sirodj. Pandangan hadirin pun terarah pula kepada doktor lulusan Universitas Umm Al-Qura, Makkah itu. Tidak lama selepas itu, kiai yang terkenal  berwawasan  luas  dan berpulang di Yogyakarta pada Kamis, 8 Jumada Al-Ula  1410 H/7  Desember 1989 M itu berucap: 

“Said! Saya tahu banyak tentang dirimu. Ayahmu, Kiai Aqil dari Kempek, Palimanan dan K.H. Mahrus Lirboyo pernah banyak bercerita tentang dirimu kepadaku. Saya pun tahu, kamu cerdas, kuat membaca, dan memiliki wawasan yang luas. Namun, saya lihat, kamu ini sedikit ambisius dan kurang hati-hati dalam berbicara kepada masyarakat luas. Jagalah ucapanmu dan hati-hati setiap kali kamu memberikan pernyataan. Kamu tampaknya lama tidak menyimak Kitâb Riyâdh Al-Shâlihîn. Saya harapkan kamu, juga-juga para santri Pondok Pesantren Krapyak yang lain, kerap menyimak kembali karya besar Imam Al-Nawawi itu, supaya kamu lebih tawadhu’ dan melakukan murâqabah dan muhâsabah. Pintar tapi tidak tawadhu dan jarang melakukan murâqabah dan muhâsabah akan membuat kamu sombong dan takabur.”

“Inggih, Kiai,” jawab Said Aqil Sirodj. Dengan suara pelan dan gemetar. “Nyuwun pandongani pun Kiai, mugi kawulo mboten dados tiyang ingkang sombong lan takabur.”

“Ya. Seperti halnya Mustofa dan murid-muridku yang lain, selalu saya doakan, kiranya kalian semua tidak menjadi orang yang sombong dan takabur.”

Rampung berbicara dengan Said Aqil Siraj, pandangan K.H. Ali Maksum kemudian terarah kepada Yahya Tsaquf Cholil. Pandangan hadirin pun terarah pula Gus asal Leteh, Rembang itu. K.H Ali Maksum itu kemudian berucap kepada juragan Terong Gosong itu, “Yahya! Seperti halnya Said, kamu juga cerdas, memiliki bacaan yang luas, dan berwawasan luas. Kamu pun berani memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda. Namun, saya juga meminta kamu untuk lebih berhati-hati dalam berpendapat. Bacalah kembali, sesering yang dapat kamu lakukan, Kitâb Riyâdh Al-Shâlihîn. Biar kalbu dan benakmu kian lembut dan tawadhu’. Saya masih percaya denganmu.”

“Inggih, Kiai. Kadang, saya sempatkan menyimak kitab itu. Matur nuwun, Kiai sampun kerso paring nasihat dateng kawulo.”

Usai berucap demikian, kiai yang lahir di sebuah kota pesisir  utara  perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, Lasem, pada Selasa, 15 Rabi‘ Al-Akhir 1333 H/2 Maret 1915 M itu kemudian mengarahkan pandangan beliau kepada hadirin. Tidak lama kemudian, beliau berucap, “Hadirin yang saya muliakan. Dini hari ini saya sengaja mengajak hadirin semua ke tempat ini, tempat yang pernah menjadi saksi kehadiran Rasulullah Saw. sebelum menghadap kepada Allah Swt. di Sidrah Al-Muntaha, dalam Peristiwa Mi‘raj, dengan tujuan supaya kita kembali menyimak dan meneladani teladan yang digariskan Rasulullah Saw. Karena itu, saya tadi sengaja memberikan pengajian Kitâb Riyâdh Al-Shâlihîn. Tentu, hadirin semua mengetahui, karya besar Imam Muhyiddin  Abu Zakariyya  Yahya  bin Syaraf bin Murri bin Hasan  bin  Husain  bin Hizam  bin  Muhammad bin Jum‘ah Al-Nawawi Al-Syafi‘i, yang berisi hadis-hadis pilihan, itu sarat dengan ajaran indah dari Rasulullah Saw. Dan, sebentar lagi shalat Subuh akan tiba. Mari kita bersama kita menuju ke Masjid Qibli (Masjid Al-Aqsha) di depan itu. Untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah di situ.”

Benar, tidak lama kemudian azan yang indah pun dilantunkan. Ternyata, azan tersebut tidak dilantunkan dari masjid dengan empat menara di Bait Al-Maqdis itu. Namun, dari sebuah masjid dari dekat rumah saya di Baleendah, Kabupaten Bandung. Mendengar azan tersebut, saya pun terbangun dari tidur pulas. Dan, semua yang saya alami itu ternyata hanya mimpi belaka. Duh!@ru