Begini Kata Ekonom Soal Jokowi Sebut Masih Ada 2 Minggu Hindari Resesi

Begini Kata Ekonom Soal Jokowi Sebut Masih Ada 2 Minggu Hindari Resesi
Presiden Jokowi (foto Biro Pers Sekretariat Presiden)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi agar tumbuh positif, Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini mengingatkan para Menteri dan Pejabat Kabinet Indonesia Maju bahwa masih tersisa waktu 2 minggu lagi. Hal ini demi menghindari resesi yang bisa terjadi jika ekonomi Indonesia pada kuartal III kembali negatif.

Mungkinkah waktu dua minggu tersebut cukup untuk menyelamatkan Indonesia dari resesi?

Menurut Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, tidak mungkin bisa waktu dua minggu dipakai untuk mencegah resesi. Apalagi, ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota Jakarta. Dapat dipastikan Indonesia tidak bisa lepas dari jurang resesi.

"Nggak bisa. Ada PSBB lebih ketat ya pasti resesi di Kuartal III-2020," ujar Bhima kepada detikcom, Senin (14/9/2020).

Pemberlakuan kembali PSBB Jakarta diyakini dapat menurunkan konsumsi rumah tangga penduduk Jakarta. Padahal, indikator terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga tersebut.

"Konsumsi rumah tangga akan turun. Masyarakat akan tahan belanja apalagi pemerintah dinilai gagal atasi pandemi sehingga muncul PSBB yang lebih ketat," sambungnya.

Hal serupa dikuatkan oleh ekonom lainnya dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet.

"Saya kira memang sulit menambah daya ungkit ekonomi dalam waktu 2 minggu," kata Yusuf.

Apalagi sudah berbulan-bulan ini tercatat belum ada perkembangan yang signifikan atas aktifitas masyarakat di luar rumah. Menurut laporan Google Mobility Report sampai dengan September, pertumbuhan aktifitas masyarakat yang berpergian ke pusat perbelanjaan ritel dan pusat grosir baru tumbuh sekitar 1- 4%. Padahal, sejak Juni PSBB sudah dilonggarkan oleh pemerintah. Sehingga, menurut Yusuf yang menyebabkan sulitnya RI lepas dari jurang resesi karena ada daya beli yang menurun di masyarakat.

"Padahal seperti yang kita tahu pelonggaran PSBB sudah dilakukan sejak Juni, namun karena daya beli masyarakat yang melemah makannya pelonggaran ini kemudian tidak serta merta berdampak pada peningkatan konsumsi," paparnya. (WS)