Banjir: Antara Opini Akar Rumput dengan Elite

Banjir: Antara Opini Akar Rumput dengan Elite
Dok. Istimewa

Oleh: As'ad Said Ali*

ADA perbedaan mencolok bagaimana tanggapan masyarakat akar rumput dengan tanggapan sejumlah kaum menengah - elite politik di negeri tercinta. Hal ini tampak sejak bencana alam dalam tiga minggu terakhir, mulai banjir, gempa bumi, dan tanah longsor di Sulawesi dan Kalimantan Selatan, hingga beberapa daerah lain termasuk musibah di beberapa daerah di pulau Jawa. 

Umumnya masyarakat akar rumput dengan antusias mengulurkan tangan untuk memberi bantuan secara gotong royong dengan semangat yang luar biasa. Seolah mereka terpanggil ingin menunjukkan kebersamaan sebagai sesama saudara sebangsa manakala terjadi musibah yang datang mendadak. Saya sangat terharu dan sekaligus bangga, ketika anak-anak muda Pati dan Kudus (tempat saya lahir dan tumbuh dewasa), dengan menggunakan atribut organisasi Islam terbesar di negeri membagikan bantuan di tengah banjir dan dinginnya malam. 

Berbeda secara kontras, sejumlah kaum elite - menengah politik menunjukkan sikap yang bertolak belakang. Memang tidak semua bersikap tak acuh, karena sebagian dari mereka juga tidak sedikit yang memberikan bantuan kemanusiaan dan perhatian yang besar.

Kaum elite - menengah politik yang saya maksudkan adalah mereka yang memanfaatkan bencana alam untuk kepentingan politik praktis. Bukannya menunjukkan empatinya, sebaliknya berusaha menyudutkan lawan politiknya dengan cara menimpakan segala kesalahan atas terjadinya bencana alam disertai sumpah serapah di Medsos. Mereka lupa bahwa bencana alam tidak semua bisa diperhitungkan kapan datangnya dan seberapa besar bencana tersebut.

Pada satu sisi, masyarakat akar rumput menggunakan musibah bencana alam untuk memperkuat solidaritas sesama warga negara. Mungkin ini yang disebut “kearifan lokal”. Sebaliknya, pada sisi lain sejumlah elite-menengah politik melihat semata demi kepentingan politik, bukannya menggunakan musibah bencana alam guna memperkuat persaudaraan, tetapi malah mengirim pesan “kebencian“ dan “perseteruan”.

Politik tidak selamanya harus diartikan sebagai “upaya untuk merebut kekuasaan” (politic is the struggle for power) seperti definisi politik menurut pandangan Barat modern. Tetapi ada juga definisi politik yang lebih manusiawi peninggalan khazanah peradaban  Islam bahwa “politik adalah setiap upaya manusia untuk mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia”.

*DR kH As'ad Said Ali, mantan wakil ketua BIN dan mantan Wakil Ketua Umum PBNU