Bahas Rekonsiliasi, Biden Bincang Perdana dengan Putin

Bahas Rekonsiliasi, Biden Bincang Perdana dengan Putin

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Presiden AS Joe Biden berbincang untuk pertama kalinya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, melalui sambungan telepon pada Selasa (26/1/2021). 

Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas rekonsiliasi hubungan dua negara.

Dalam pernyataan kepada AFP, Kremlin menyebut Putin mendukung "normalisasi" hubungan kedua negara.

"Presiden Vladimir Putin menekankan bahwa normalisasi hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat akan memenuhi kepentingan kedua negara dan seluruh komunitas internasional," kata pernyataan Kremlin.

Sementara itu, komunikasi yang akhirnya terjadi antara pemimpin kedua negara dalam empat tahun terakhir itu juga membahas sejumlah hal, salah satunya kekhawatiran AS atas perlakuan Rusia terhadap tokoh oposisi Kremlin, Alexei Navalny.

Navalny diketahui dipenjara setelah kembali ke Moskow pada pekan lalu. Kepolisian Rusia langsung menangkap Navalny pada 17 Januari, usai dirawat dan menjalani masa pemulihan di Jerman akibat dugaan diracun.

Navalny selama ini adalah aktivis yang paling keras menentang Putin. Dia juga menuduh Putin dan sejumlah anggota kabinetnya korupsi dan hidup mewah.

Akibat aktivitasnya, Navalny sudah keluar masuk penjara. Dia diduga hendak dibunuh dengan menggunakan racun saraf Novichok, yang merupakan senjata kimia yang dibuat di era Uni Soviet.

Selain itu, Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki menyebut komunikasi keduanya juga membahas proposal Biden memperpanjang perjanjian senjata nuklir New START dengan Rusia selama lima tahun.

"Juga dukungan kuat (AS) untuk kedaulatan Ukraina," kata Psaki merujuk pada tindakan agresi Rusia yang sedang berlangsung ke kawasan tersebut.

Perjanjian pengendalian senjata, yang akan berakhir pada 5 Februari mendatang, diketahui membatasi untuk mengerahkan tidak lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategis.

Reuters menyebut komunikasi via telepon itu terjadi kala Biden menyesuaikan kebijakan AS dengan cara yang lebih kuat terhadap Rusia setelah Donald Trump menolak menghadapi Putin secara langsung.

Pada saat yang sama, Biden berusaha memperbaiki hubungan yang tegang antara AS dan Eropa dengan menekankan dalam hubungan telepon kepada Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg.

Dalam komunikasi itu, Washington menyebut pihaknya akan mematuhi pakta pertahanan timbal balik perjanjian NATO.

"Presiden Biden menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat untuk pertahanan kolektif di bawah Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara dan menggarisbawahi komitmennya memperkuat keamanan trans-Atlantik," kata pernyataan Gedung Putih.

"Presiden berterima kasih kepada sekretaris jenderal (NATO) atas kepemimpinannya yang teguh dalam aliansi, dan menyampaikan niatnya untuk berkonsultasi dan bekerja dengan sekutu mengenai berbagai masalah keamanan bersama, termasuk Afghanistan, Irak, dan Rusia," lanjut pernyataan Gedung Putih, seperti dikutip CNNIndonesia. (Jo)