Bagaimana Cara Membunuh Rakyat?

Bagaimana Cara Membunuh Rakyat?
Eko Kuntadhi

Oleh: Eko Kuntadhi

BAGAIMANAKAH cara para pendakwah membunuh jemaahnya? Sebarkan pada mereka hoax soal vaksin. Ajak mereka menentang protokol kesehatan dengan
alasan bahwa nyawa di tangan Tuhan.

Para jemaah yang kepalanya kosong, tawarkan apakah mereka tidak beriman sehingga bukannya takut pada Allah malah takut pada virus. Jemaah yang punya komorbid, tapi merasa yakin dengan anjuran sang pendakwah akan mengikuti anjuran itu. Berlagak ke mana-mana gak pake masker.

Lalu suatu hari ia demam. Badannya meriang. Napasnya naik turun. Penciumannya hilang. Tapi dia yakin, hanya doa yang menyembuhkannya.
Ia berdoa. Tapi lupa minum obat. Ia ibadah tapi menolak anjuran kesehatan. Dan esoknya, anak-anak kehilangan bapaknya. Yang imannya setebal tembok itu.

Bagaimana cara politisi membunuh rakyatnya? Kacaukan informasi dengan statemen-statemen membingungkan. Ajak rakyat membangkang pada aturan negara. Sebarkan ketidakpercayaan pada pemerintah dalam menangani Covid19. Lantas rakyat akan tidak peduli dengan kondisi. Mereka menerobos saja semuanya. Lantas varian Delta mampir ke tubuhnya.

Ia ke RS. Tapi RS penuh. Ia memaki-maki pemerintah karena gak dapat layanan maksimal. Keluarganya membutuhkan tabung oksigen, tetapi tidak gampang di dapat. Karena ribuan orang lain mencari benda yang sama.

Kebenciannya makin tebal. Ia tergeletak di ruang ICU dengan kebencian yang gak juga pupus. Memaki-maki tenaga tenaga kesehatan dalam hatinya.

"Dasar semua cebong. Mau saja disuruh jadi nakes ngurus pasien padahal honornya belum keluar juga," gerundelnya dalam hati.

Esok harinya saturasi oksigen turun. Ia sesak. Dan dokter yang lelah terpaksa melihat jam tangannya. Menghitung jam kematiannya.

Bagaimana para mahasiswa membunuh rakyat? Mereka sebarkan ajakan demo. Targetnya menurunkan Jokowi. Mereka tahu, Indonesia dan dunia sedang dilanda bencana. Tapi mereka mau menambah beban mencana 
lagi.
Caranya dengan membuat kerusuhan. Membuat ekonomi hancur. Menyebarkan virus ke mana-mana dengan menggelar aksi di jalan.

Air mata rakyat yang kiosnya terbakar. Dengus nafas para pengemudi ojek yang kehilangan penumpang. Bukan urusan mahasiswa. Mereka hanya berfikir bagaimana bisa mengisi akun tiktoknya dengan foto-foti kerusuhan.

Dengan foto kota yang penuh api. Dan ekonomi yang akan semakin nyusruk.
Ibunya di rumah teriak minta tolong dia mengepel lantai atau mencuci bajunya sendiri. Karena bapaknya sudah gak sanggup bayar pembantu.
"Bu, kami sedang berjuang. Kami mau membuat kekacauan di Indonesia. Agar ekonomi makin rusak. Agar orang yang tertular virus makin banyak. Dengan begitu Jokowi bisa dipaksa turun dari jabatannya," jawab mereka.

"Lalu siapa yang menggantikan Jokowi. Wakilnya?"

Mahasiswa itu terdiam. 

"Pokoknya turun dulu. Indonesia kacau dulu. Ekonomi hancur dulu. Itu
tujuan kita."

"Dan bapakmu makin susah cari rezeki," kata ibunya.

"Gak apa-apa, bu. Itulah pengorbanan. Sekarang saya mau demo. Minta uang dong."

"Ibu gak punya buang. Kantor bapak hanya sanggup menggaji separuh!"

"Lho, ibu gimana sih? Gimana saya mau berjuang kalau gak dikasih ongkos. Gimana bisa memimpin demonstran kalau gak punya duit. Pinjam tetangga dulu, bu. Demi perjuangan anakmu. Mana bisa kami membuat kerusuhan kalau gak dikasih ongkos!"

"Uang ibu hanya tinggal buat belanja untuk makan besok. Kalau kamu bawa semua, kita besok makan apa? Itu juga uang hasil bansos dari pemerintah."

"Gak usah mikirin makan apa, bu. Yang penting Jokowi turun. Ekonomi kacau. Dan anak ibu dikenang sebagai pahlawan."

"Kalau ada toko terbakar, kamu tetap merasa pahlawan?"

"Iya!"

"Kalau ada rakyat jadi korban, kamu tetap pahlawan?"

"Pasti."

"Kalau Covid makin merajalela dan banyak rakyat tertular karena ulahmu. Kamu tetap pahlawan?"

"Yakin, bu!"

Tetiba ayahnya masuk. Wajahnya kusut. "Mahasiswa-nahasiswa di jalan itu emang gak punya otak. Mereka demo padahal kondisi sedang susah begini. Kantorku makin terpuruk. Kini saya kena pengurangan karyawan. Mengandalkan bantuan pemerintah, pasti gak cukup."

"Tenang, pak. Anak bapak akan tampil sebagai pahlawan. Besok kita demo. Kita bikin kerusuhan. Kita bikin kekacauan."

"Eh, gak usah mikir jadi pahlawan. Sikat kamar mandi dulu sana!," bentak bapaknya.

Mahasiswa itu ngeloyor. Ia jadi pahlawan di kamar mandi.***


* Eko Kuntadhi, penulis, pegiat media sosial