Mengenal Bapak Bom Nuklir India yang Nyentrik dan Nyleneh

APJ Abdul  Kalam

APJ Abdul  Kalam
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

THE CHALLENGE, my young friends, is that you have to fight the hardest battle, which any human being can ever imagine to fight; and never stop fighting until you arrive at your destined place, that is, a UNIQUE YOU! Friends, what will be your tools to fight this battle. There are four criteria for building a unique personality, what are they: have an aim in life, continuously acquire the knowledge, work hard and persevere to realise the great life.”

Entah kenapa,ketika saya menemukan pesan indah tersebut, yang disampaikan di Indian Space Research Organisation (ISRO) pada 11 Juni 2011, hati dan benak saya begitu membara untuk segera mencari sumbernya.

“Oh! Ternyata, pesan indah ini berasal dari seorang ilmuwan Muslim terkemuka asal India. Malah, ia pernah menjadi orang nomor satu, alias presiden, negeri yang berpenduduk lebih dari satu miliar itu!” Demikian gumam bibir saya, ketika tahu siapa pemilik pesan indah yang ditujukan kepada anak-anak muda tersebut: perlunya punya tujuan hidup, senantiasa menimba ilmu pengetahuan, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan kehidupan yang luar biasa.

Kemudian, ketika me“melototi” foto-foto ilmuwan yang satu ini, entah kenapa saya termenung dan tercenung. Lama. Tampilan ilmuwan yang satu ini benar-benar nyleneh dan nyentrik. Ya, nyleneh dan nyentrik. Rambutnya  berwarna keperak-perakan dan gondrong sampai ke pundak. Pancaran keduanya matanya begitu hidup. Tangan kanannya kadang mengepal ketika sedang memberikan sambutan.  Senyumnya yang dihiasi gigi-gigi yang masih lengkap dan putih tampak begitu tulus. Dan, ke mana-mana ia senantiasa mengenakan sandal. Ya, ke  mana-mana mengenakan sandal!

Entah kenapa pula, ketika  menyimak dan mencermati foto-foto ilmuwan yang mendapat sebutan Missile Man (Orang Rudal) ini, saya teringat Imam Abu Hamid Al-Ghazali: seorang ulama raksasa yang terkenal dengan karya masterpiecenya Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn. Bukankah Imam Al-Ghazali juga memiliki rambut yang memanjang. Hingga ke pundak. Lebih panjang ketimbang panjang rambut ilmuwan asal India itu.

Kini, bagaimana kisah hidup ilmuwan yang tampilannya nyleneh dan nyentrik ini?

Ternyata, ilmuwan Muslim kondang India  yang disebut  sebagai  “Bapak Program Rudal India” dan  populer  disebut Missile Man (Orang Rudal) ini presiden Muslim ke-3 dari 12  putra-putri India yang pernah menduduki jabatan terhormat itu. Sang ilmuwan menduduki jabatan bergengsi itu selepas meraih 4.152  dari  4.785  suara yang ada di  parlemen. Jabatan bergengsi itu ia raih  pada  Kamis,  7 Jumada  Al-Awwal  1423 H/18 Juli 2002 M. Dua  presiden  Muslim India  lainnya adalah Dr. Zakir Husain dan Dr. Fakhruddin Ali Ahmed.

Putra   pasangan  suami-istri  Jainulabdeen  Marakayar,   seorang Muslim Tamil yang pemilik sejumlah perahu, dan Ashiamma (keturunan seorang Bahadur) serta bernama lengkap  Avul Pakir  Jainulabdeen Abdul Kalam ini lahir pada Kamis,  3  Jumada Al-Tsaniyyah 1350  H/15 Oktober  1931  M. Ia lahir  dalam lingkungan   sebuah  keluarga  kelas  menengah  di   Dhanushkodi, Rameshwaram, kota pelabuhan di ujung selatan anak benua India. Di kota pelabuhan itulah  akademisi  yang pemakan sayur-sayuran  (vegetarian)  ini mengawali  pendidikannya. Di sebuah sekolah desa: Sekolah “Samiyar”.

Murid  Prof.  Sponder, Prof. KAV Pandalai, Prof.  Narasingha,  dan Prof.  Vikram Sarabhai yang biasa muncul di hadapan publik  hanya dengan  mengenakan kemeja lengan pendek dan bersandal  ini  mulai meniti  karier  sebagai penjaja surat kabar. Ya, seorang penjaja surat kabar. Ia  kemudian  meraih gelar  sarjana  di  bidang   teknik  penerbangan  dari  Madras Institute of Technology. Lantas, pada 1960-an, ia mulai bekerja pada Pusat Antariksa Vikram Sarabhai di Negara Bagian Kerala, tetangga Tamil Nadu dan menjadi salah seorang dari tiga tenaga insinyurnya  yang pertama. Kala itu, ia memainkan peran penting dalam perjalanan lembaga  itu. Untuk  menjadi  sebuah pusat riset antariksa  paling  bergengsi  di India. Lembaga ini berfungsi untuk  membantu pengembangan kendaraan peluncur satelit buatan dalam negeri yang pertama di India.

Dalam perjalanan hidupnya selanjutnya, tokoh  yang hidup membujang dan membiarkan rambut warna  peraknya tumbuh gondrong sampai ke pundak serta menjadikannya bagian  dari ciri  khasnya  ini  memainkan  peran  yang  amat  penting   dalam perencanaan dan pelaksanaan lima kali uji coba nuklir bawah tanah India pada 1419 H/1998 M. Tidak aneh jika akhirnya hal itu  menjadikannya seorang tokoh  peraih ‘Bharat  Ratna’  atau Bintang India,  tanda  penghargaan  tertinggi Pemerintah  India bagi warga sipil. Sumbangannya yang besar  pada program  ruang  angkasa India, termasuk program  satelit,  peluru kendali, senjata  nuklir, dan proyek pesawat tempur ringan,  membuat  para  ilmuwan  India memberi ia penghormatan  dengan  menyebutnya sebagai “Bapak Bom Nuklir India”. Luar biasa!

Selepas tidak menjadi orang nomor satu India, ilmuwan yang menerima tidak kurang dari 40 gelar doctor honoris causa dari berbagai universitas di berbagai penjuru dunia ini tetap aktif di dunia ilmu pengetahuan yang ia tekuni. Meski sibuk, ilmuwan yang berpulang pada 27 Juli 2015 di Shillong, India itu menerima penghargaan doctor of science dari Universitas Edinburg, Inggris ini masih sempat menyusun karya-karya tulis. Antara lain Developments in Fluid Mechanics and Space Technology, India 2020: A Vision for the New Millennium, Wings of Fire: An Autobiography, Ignited Minds: Unleashing the Power Within India, The Luminous Sparks, Mission India, Inspiring Thoughts, Indomitable, Envisioning an Empowered Nation, You Are Born To Blossom: Take My Journey Beyond, Turning Points: A journey through challenges, Target 3 Billion, My Journey: Transforming Dreams into Actions, A Manifesto for Change: A Sequel to India.

Perjalanan hidup ilmuwan yang nyentrik, nyleneh, cerdas, energik, inspirator, dan motivator piawai ini memberikan suatu pelajaran indah: jangan mudah terbuai oleh pencitraan dan tampilan yang ‘menyilaukan’. Yang kerap memerdayakan. Dan, kini, mari kita simak sejenak pesan indah lain mantan presiden India ini, “If you fail, never give up because F.A.I.L. means ‘First Attempt In Learning’. End is not the end, in fact E.N.D means ‘Effort Never Dies’. And if you get No answer, remember N.O. means ‘Next Opportunity’. So, let’s be positive.”

Pesan yang indah. Bahut bahut dhanyavaad, Prof. Dr. APJ Abdul Kalam. Terima kasih banyak, Prof. Dr. APJ Abdul Kalam. Kiranya, muncul anak-anak muda yang mengikuti jejak langkahnya: meski nyentrik dan nyleneh, namun sangat bermanfaat untuk sesama.

Semoga!