Antara Celeng dan Bunglon

Antara Celeng dan Bunglon

Oleh: Guntur Soekarno*

DENGAN melandainya penderita setan siluman covid-19 akhir-akhir ini, maka di beberapa daerah PPKM diturunkan dari level 3 ke level 2 bahkan untuk daerah Blitar PPKM disana sudah menjadi level 1. Di Jakarta PPKM masih tetap level 3, walaupun demikian kawasan wisata sudah mulai dibuka secara bertahap dan tetap membatasi pengunjung serta melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Salah satu kawasan wisata yang dibuka adalah Taman Margasatwa Ragunan yang mengoleksi berbagai macam jenis hewan-hewan.

Salah satu hal yang menarik untuk disimak adalah sakitnya seekor macan yang tertular virus corona covid-19 sehingga perlu mendapat perawatan seperti manusia layaknya. Berita terakhir macan tersebut telah dinyatakan sembuh dari virus corona covid-19 dan kini berada dalam keadaan sehat walafiat. Ternyata terdapat kesamaan antara hewan dan manusia yang kedua-duanya adalah ciptaan Yang Maha Kuasa dengan persamaan-persamaan sebagai makhluk Allah SWT.

Bila kita berbicara mengenai dunia hewan ada beberapa hewan yang mempunyai ciri-ciri yang khas terutama sifat alamiah. Misalnya seekor Babi, apa ciri khasnya? Salah satu ciri khasnya adalah rasa dagingnya nyaman sekali. Oleh sebab itu, untuk warga-warga khususnya China dan Jepang juga Amerika, masakan yang mengandung babi menjadi suguhan yang istimewa, namun bagi kita-kita umat muslim di dunia babi dilarang kita santap, kecuali dalam keadaan sangat darurat sesuai dengan petunjuk Alquran. Biasanya babi yang disantap oleh warga non muslim adalah babi-babi yang di ternakan dan bukan babi liar.  Adapun celeng adalah hewan yang satu keluarga dengan babi akan tetapi yang bersifat liar di hutan-hutan. 

Bagaimana hukumnya menurut Islam makan daging celeng? Secara tegas juga dinyatakan bahwa warga muslim dilarang/haram hukumnya memakan daging celeng. Walaupun demikian menurut warga yang pernah menyantap daging celeng rasanyanya kalah nikmat bila dibandingkan dengan daging babi. Selain itu secara naluri sifat celeng adalah galak dan bisa menyerang korbannya dengan berlari lurus ke depan tanpa berbelok-belok seperti seekor badak. Bila dibandingkan dengan babi dan hewan-hewan lain yang tidak termasuk binatang buas kekuatan celeng jauh lebih kuat. Bagi para pemburu menembak mati seekor celeng memerlukan kepiawaian. Tanpa tembakan tepat mengenai jantungnya celeng masih dapat bertahan hidup dan kabur menghilang di antara semak-semak di hutan. Bahkan bila sang pemburu tidak waspada sang celeng tadi dapat menyerang sang pemburu hingga luka parah. Jadi paling aman cara menembak celeng (Berburu celeng) akan aman bila dilakukan dari atas sebuah pohon.

Baca Juga

Demikianlah sepintas kilas masalah hewan celeng yang dalam bahasa Indonesia disebut seekor babi hutan.

Sekilas Mengenai Hewan Bunglon

Ada seekor hewan yang mempunyai ciri istimewa dan unik dan tidak dimiliki oleh hewan-hewan lainnya. Bunglon adalah seekor hewan melata yang besarnya 4 s/d 5 kali seekor tokek. Tubuhnya mirip-mirip seekor yang dalam bahasa Jawa disebut 'Celeret Gombel' seekor hewan melata yang dapat ”terbang”. Adapun keistimewaan dari bunglon adalah ia dapat bertukar warna kulit sesuai warna tempat ia berpijak.  Contohnya bila ia menempel di sebuah pohon yang warna kulit batangnya kecokelatan maka ia dapat merubah warna kulitnya menjadi kecokelatan, bila ia menempel pada sebuah tembok berwarna putih maka kulitnya akan berubah warna dari warna aslinya kehijau-hijauan menjadi putih.

Di kepulauan Galapagos setelah berevolusi selama berjuta tahun hewan Bunglon ini dapat menjadi berukuran besar mendekati seekor Biawak Jawa yang hal ini tidak ditemukan di Indonesia. Seperti kita ketahui di Kepulauan Galapagos terdapat bermacam-macam hewan setelah berevolusi berjuta tahun berkembang menjadi Gigantea (raksasa) seperti misalnya kura-kura raksasa Galapagos, biawak, Ikan-Ikanan, bahkan ular raksasa laksana Naga.

Tidak seperti celeng maka bunglon tidak dapat kita santap kecuali mungkin bagi anggota-anggota pasukan khusus kita seperti Gultor 81 dari Kopassus, Denjaka (Detasemen Jala mangkara) dari Marinir yang dalam latihan Survival (bertahan hidup) harus dapat menyantap binatang-binatang jenis Ulat-ulatan, Ular dan kalau perlu Bunglon.

Untuk kita-kita yang bukan anggota pasukan khusus tidak perlu mencoba-coba menyantap hewan-hewan tersebut, rasa-rasanya perut kita akan terasa mual salah-salah muntah-muntah.

Berbagai Sifat Manusia Sebagai Makhluk Allah

Menurut Bung Karno ada satu ayat yang hebat di dalam Alquran yaitu surat Al Baqarah ayat 164: Sesungguhnya tentang penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Soekarno; tauhid adalah jiwaku)

Demikianlah Bung Karno dalam sambutannya ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tanggal 3 Agustus 1965.

Sesuai dengan surat tersebut maka jelas manusia dan hewan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang pastinya ada persamaan-persamaan watak dan sifat di antara keduanya, misal saja salah satu sifat manusia adalah selalu berpasang-pasangan demikian pula dengan hewan jadi sifat-sifat manusia dapat tercermin di dalam sifat-sifat hewan begitu pula sebaliknya sifat-sifat hewan dapat tercermin dalam sifat manusia.

Sehingga bila kita kembali kepada masalah sifat celeng atau babi hutan dan bunglon dihubungkan dengan sifat manusia maka manusia yang bersifat celeng akan main “seruduk” dalam menghadapi masalah sedangkan yang bersifat Bunglon akan berganti-ganti pendirian sesuai dengan kebutuhan yaitu tidak dapat berpendirian konsekuen menghadapi setiap masalah.

Dalam hubungan ini kita kaum patriotik harus memilih sifat yang mana? Celeng atau Bunglon?!?

Secara tegas kita akan menolak kedua-duanya dan akan memilih bersifat Elang Garuda yang terbang tinggi dengan gagah di angkasa raya dengan menyandang dengan teguh sifat Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD Revolusi 45 untuk mencapai suatu masyarakat sosialis modern yang religius ber-Ketuhanan Yang Maha Esa!! 

*Pemerhati Sosial