Catatan dari Senayan

Amburadul Polisiku

Amburadul Polisiku
Istimewa

Oleh: Imas Senopati

PAGI-PAGI membaca berita di berbagai  daerah di Tanah Air. Mata tertumbuk pada dua berita yang menyedihkan. Yang satu ada seorang Kapolres Nunukan, Kalimantan Timur, yang dicopot dari jabatannya karena aksi brutalnya menendang dan memukul anak buah dan videonya sempat viral. Satu lagi ada polisi menembak sesama anggota polisi di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Kalau dulu berita seperti itu segera disusul dengan keterangan pers dari Humas Polri setempat, ada kesalahpahaman. Sekarang alasan itu dianggap kuno. Ingin mencitrakan polisi itu tak pernah bersalah. Yang salah selalu penjahat. Pernyataan  itu semua perbuatan oknum, bukan anggota, juga klise. Bukankah jajaran itu merupakan kumpulan dari oknum-oknum?

Jika kejadian seperti itu hanya satu atau dua kali dalam setahun, mungkin alasan semacam itu bisa dipahami. Tapi dalam kurun waktu hanya beberapa minggu terakhir ini banyak diberitakan kelakuan anggota polisi yang menyimpang lainnya di sekitar Jakarta dan di berbagai daerah. 

Anggota polisi di Tangerang yang membanting "smackdown" mahasiwa peserta unjuk rasa sampai pingsan, polisi yang membujuk anak gadis seorang tersangka berhubungan badan, polisi yang menjual barang bukti, polisi berhubungan intim dengan istri anak buahnya, polisi mengedarkan narkoba, polisi terlibat perampokan mobil, dan lain-lainnya.

Baca Juga

Penyimpangan anggota polisi masif dipertontonkan dimana-mana. Ini membuat kita meragukan fungsi perlindungan polisi untuk rakyat. Ini juga kenyataan yang membalikkan pernyataan slogan "Polri Presisi" yang digaungkan pimpinan Polri. Slogan yang disampaikan calon Kapolri Jenderal Listyo Sigit waktu fit and poper test  di Komisi III DPR itu tak menembus ke jajaran Polri sampai bawah. Hanya indah terpampang pada spanduk, baliho, dan pernyataan.

Belum lagi diungkap di sini sederet aksi oknum anggota Polri yang menderai korps Bhayangkara itu. Bagaimana akan mewujudkan konsep "Polri Presisi" jika jajarannya amburadul seperti itu? "Polri Presisi" merupakan nama konsep program yang dibentuk oleh Kapolri Listyo Sigit. Presisi adalah singkatan dari prediktif, responsibilitas, transparansi, berkeadilan.

Menurut Kapolri, pendekatan ini bisa membuat pelayanan lebih terintegrasi, modern, mudah, dan cepat.

Itulah pekerjaan rumah yang sangat besar dan berat yang mesti dibenahi Polri sebelum membenahi kamtibmas. Meti meninjau ulang model pendidikan dan pembinaan di jajaran Polri. Jika perilaku para anggota Polri dibiarkan amburadul seperti sekarang, alih-alih Polri mampu menumbuhkan rasa aman dan tenteram masyarakat, mendapatkan kepercayaan pun sulit. (*)