Aljazair-Maroko Ribut Sampai Putus Hubungan, Bagaimana Ceritanya?

Aljazair-Maroko Ribut Sampai Putus Hubungan, Bagaimana Ceritanya?
Ilustrasi | Everypixel

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Dewan keamanan tertinggi Aljazair memutuskan menutup wilayah udara bagi seluruh penerbangan sipil dan militer Maroko pada Rabu (22/9/2021).

Kantor Kepresidenan Aljazair mengatakan keputusan itu diambil "mengingat provokasi yang terus berlanjut dan praktik bermusuhan dari pihak Maroko."

Langkah itu dilakukan Aljazair sebulan setelah Aljir memutus hubungan diplomatik dengan Maroko.

Kronologi ketegangan terbaru Aljir dan Rabat bermula dari pernyataan utusan Maroko di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Omar Hilale, mengenai dukungannya terhadap kemerdekaan wilayah Kabylie yang bergolak di Aljazair.

Komentar itu diutarakan Hilale sekitar Juli lalu. Sejak itu, Aljazair menarik duta besarnya di Rabat sebagai bentuk protes.

Dikutip AFP, permusuhan kedua negara semakin sengit setelah kebakaran hutan hebat melanda utara Aljazair pada awal Agustus lalu hingga menewaskan 90 orang.

Pihak berwenang Aljazair menuding kebakaran hutan didalangi oleh gerakan kemerdekaan wilayah Berber dan Rabat dituduh mendukung mereka.

Otoritas Aljazair juga menuduh gerakan separatis MAK dalam kebakaran hutan tersebut. MAK merupakan Movement for Self-determination of Kabylie yang dianggap Aljazair sebagai organisasi teroris.

Aljir juga menuding Maroko dan Israel mendukung kelompok separatis itu.

Aljazair pun lantas memutus hubungan diplomatik dengan Maroko pada Agustus lalu.

Maroko lalu menanggapi tindakan Aljazair yang memutus hubungan sebagai sesuatu yang "salah dan bahkan tak masuk akal."

Sejak 1994, perbatasan antara Aljazair dan Maroko juga sudah ditutup. Keduanya memiliki riwayat hubungan yang kurang harmonis, utamanya gara-gara wilayah Sahara Barat.

Maroko, bekas jajahan Spanyol, melihat Sahara Barat sebagai bagian integral teritorial dan kedaulatannya. Namun, Aljazair mendukung gerakan kemerdekaan Polisario di wilayah itu.

Permusuhan kedua negara kian menguat setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui kedaulatan Maroko atas wilayah Sahara Barat.

Hal itu dilakukan pemerintahan Trump sebagai imbalan karena Maroko mau menormalisasi hubungan dengan Israel, sekutu dekat AS.