Mutiara Hikmah

Al-Waqidi dan Bungkusan Uang 1.000 Dirham

Al-Waqidi dan Bungkusan Uang 1.000 Dirham
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

PENGAWAL. Jemput segera Al-Waqidi. Untuk menghadap ke sini!” 
Demikian perintah Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid, penguasa ke-7 Dinasti ‘Abbasiyah, hari itu, kepada seorang pengawal.

Orang yang diperintahkan penguasa yang putra pasangan  suami-istri Harun  Al-Rasyid  dan  Marajil, seorang perempuan  berdarah  Persia dan  berpulang kala melahirkannya,  itu tidak lain adalah seorang pakar di bidang sejarah Islam. Juga, seorang pakar hadis, dan fikih kondang yang kala itu menjabat hakim agung di Baghdad Madinah Al-Salam. 

Bernama  lengkap  Abu ‘Abdullah Muhammad  bin  ‘Umar  Al-Waqidi, mantan budak (maulâ) seorang warga Madinah ini lahir pada  tahun 130  H/747 M di Kota Nabi itu. Selepas menimba ilmu, tokoh itu  kemudian bekerja  sebagai pedagang tepung jelai. Namun, usahanya  tersebut gagal.  Ya, gagal total. 
Karena itu,  ia lantas meninggalkan Kota  Nabi,  menuju  Baghdad Madinah Al-Salam. Di  kota  metropolis yang kala itu menjadi  ibu kota pemerintahan Dinasti ‘Abbasiyah, atas bantuan Yahya bin Khalid  Al-Barmaki (seorang perdana menteri di masa pemerintahan Harun Al-Rasyid), ia diangkat sebagai hakim wilayah barat kota tersebut. Lantas,  pada  205  H/819  M, ia diangkat Al-Ma’mun sebagai hakim  wilayah  timur kota  itu,  Rusafah, di samping sebagai  kawan  karibnya. Jabatan itu ia emban hingga berpulang di Baghdad pada 207 H/822 M. 

Betapa bingung Al-Waqidi begitu menerima kedatangan si pengawal di tempat kediamannya. Ia merasa, kala itu ia tidak melakukan tindakan yang kuasa membuat Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid tidak berkenan. Karena itu, ia pun segera menghadap ke Istana Kubah Hijau di Baghdad Madinah Al-Salam.: tempat sang penguasa bersemayam.

Ketika Al-Waqidi telah berada istana, dan selepas berbagi sapa dan berbincang sejenak dengannya, Al-Ma’mun lantas berucap kepada Al-Waqidi, “Al-Waqidi! Benarkah kejadian yang terjadi di antara dirimu dengan dua sahabatmu itu?”

“Kejadian apa, Amir Al-Mukminin?” sahut Al-Waqidi. Bingung dan penasaran. 
 
“Kejadian perihal kesulitan yang menimpa dirimu, di sekitar Hari Idul Fitri yang lalu, serta sikap lebih mendahulukan orang lain di antara dirimu dan kedua sahabatmu itu!”

“Maaf, Amir Al-Mukminin,” jawab Al-Waqidi pelan. “Sejatinya, hal itu merupakan kejadian biasa saja. Bukan kejadian yang luar biasa kok.”

“Bagaimanakah sejatinya kejadian itu?”

Karena tidak kuasa menolak permintaan Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid, pakar yang juga terkenal  sebagai  pemilik perpustakaan besar  dan  penulis  yang produktif, antara lain,  Al-Târikh Al-Kabîr dan Al-Târikh wa Al-Maghâzî wa Al-Ba‘ts, itu akhirnya berucap lirih, “Amir Al-Mukminin. Memang, kejadian itu benar adanya. Kala menjelang Hari Idul Fitri yang lalu, kesulitan hidup benar-benar menyergap diri saya dan keluarga saya. Dalam keadaan demikian, entah mengapa tiba-tiba dalam benak saya membersit pikiran untuk menulis sepucuk surat kepada seorang sahabat. Ia keturunan Bani Hasyim. Benar saja, saya lantas mengirim surat kepadanya. Dalam surat itu saya kemukakan kesulitan yang sedang saya alami bersama keluarga saya.”

Usai berucap demikian, Al-Waqidi lantas menarik napas panjang dan diam seraya menundukkan kepala. Selang beberapa saat kemudian, ia melanjutkan ucapannya, “Amir Al-Mukminin. Selang beberapa waktu kemudian, sahabat saya itu mengirimkan sebuah bungkusan berisi uang 1.000 dirham kepada saya. Namun, belum lagi saya sempat menggunakan uang itu untuk memenuhi keperluan kami sekeluarga, seorang sahabat saya yang lain datang menemui saya. Duh, sahabat saya tersebut, ternyata, menuturkan kesulitan hidup yang sedang menimpa dirinya dan keluarganya. Karena tidak ingin ia mengalami kesulitan, tanpa berpikir panjang bungkusan uang itu lantas saya serahkan kepadanya. Saat itu juga. Selepas ia pulang, saya kemudian berdiam diri dalam masjid. Saya sangat malu kepada istri saya. Akan tetapi, tidak lama kemudian saya pulang ke rumah, dengan maksud menuturkan kejadian yang saya alami kepada istri saya. Bukannya kecewa dengan sikap dan tindakan saya, alih-alih istri saya justru memuji sikap dan tindakan saya itu.”

“Selanjutnya, apa yang terjadi?” tanya sang penguasa. Sangat penasaran dan ingin tahu kelanjutan cerita yang dikemukakan Al-Waqidi.

“Amir Al-Mukminin,” jawab Al-Waqidi. Sambil menarik napas panjang. 

“Beberapa waktu kemudian, sahabat saya yang keturunan Bani Hasyim datang ke rumah saya. Ia datang dengan membawa bungkusan yang saya serahkan kepada sahabat saya yang satu lagi. Saya pun merasa heran: mengapa ia membawa bungkusan berisi 1.000 dirham itu. 

Selepas berbagi sapa sejenak dengan saya, ia kemudian mengemukakan bahwa ia baru saja menerima bungkusan uang itu dari sahabat saya yang satu lagi. Ia kemudian menuturkan bahwa ketika mengirimkan bungkusan uang kepada saya, sejatinya hanya itulah uang yang ia miliki. Karena itu, ia pun menuturkan keadaannya kepada sahabat saya yang menerima bungkusan uang itu dari saya. Selang beberapa lama ia menerima kiriman bungkusan uang yang ia serahkan kepada saya. Menyadari hal itu, ia kemudian mendatangi saya. 

Mendengar penuturannya yang demikian, kami pun tidak kuasa menahan lelehan air mata kami. Dan, kemudian kami sepakat untuk membagi uang dalam bungkusan itu menjadi tiga. Sepertiga untuk saya. Sepertiga lagi untuk sahabat saya itu. Dan, sepertiga lagi untuk sahabat saya yang satu lagi. Demikian kejadian sebenarnya yang saya alami, Amir Al-Mukminin.”

Usai mendengar penuturan kejadian yang dialami Al-Waqidi itu, Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid lama termenung dan tercenung. Lalu, ucapnya lirih, “Betapa indah sikap tiga orang itu. Mereka lebih mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan dirinya sendiri.”

Tidak lama kemudian, penguasa yang lembaran sejarah Islam terkenal sebagai “Bapak Ilmu Pengetahuan” itu kemudian memerintahkan agar Al-Waqidi dan dua sahabatnya diberi hadiah sebesar 2.000 dinar. Sedangkan istri Al-Waqidi diberi hadiah 1.000 dinar. Hadiah itu diberikan sebagai penghargaan atas sikap dan tindakan mereka yang mulia itu.@ru