Mutiara Hikmah

Aku Merasa Kasihan kepadamu, Penguasa!

Aku Merasa Kasihan kepadamu, Penguasa!
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

MALAM ini aku ingin bertawaf. Secara diam-diam. Karena itu,  kau tidak perlu menyiapkan banyak pengawal!” 

Demikian ucap seorang penguasa kondang yang kala itu sedang berada di Makkah Al-Mukkaramah, untuk memimpin ibadah haji, kepada seorang pejabat. Menerima perintah demikian, sang pejabat pun segera bersiap-siap. 

Benar, ketika malam telah larut, sang penguasa disertai sang pejabat pun meninggalkan tempat peristirahatan mereka. Menuju Masjid Al-Haram secara diam-diam. Kemudian, ketika telah berada di masjid terbesar di Makkah itu, mereka pun bertawaf. Bersama orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah yang sama. Sehingga, mereka tidak tahu bahwa saat itu sang penguasa sedang bertawaf. Bersama mereka. 

“Penguasa,” tiba-tiba ucap pelan seseorang berusia lanjut. Seraya berjalan di samping sang penguasa yang sedang bertawaf itu. “Dengarkanlah pesan saya. Bila pesan itu menurutmu benar dan baik, camkanlah pesan itu. Sebaliknya, bila pesan itu menurutmu salah, abaikan saja pesan itu.”
“Silakan kemukakan pesanmu, bapak,” sahut sang penguasa. Yang merasa heran orang tua itu mengenal dirinya. Sambil tetap bertawaf.

“Hai penguasa yang sedang bergelimang dengan berbagai kenikmatan dan mengharapkan kekuasaan yang lestari,” ucap orang itu. Tetap sambil bertawaf di samping sang penguasa. “Bila memang kau merasa gentar terhadap azab dari Allah Swt. dan mendambakan kegembiraan yang tiada henti, janganlah kau sekali-kali mendengarkan ucapan orang yang menjadi sekat antara dirimu dengan-Nya. Allah Swt. memberikan kesempatan untuk memegang kendali pemerintahan adalah kepada dirimu. Kematian pun akan mendatangimu. Baik kau inginkan atau tidak. Karena itu, janganlah kau melakukan perbuatan yang hina dan kerap melakukan perbuatan yang remeh. Juga, janganlah kau menyandarkan diri kepada orang yang tidak kuasa melindungi dirinya dan janganlah percaya kepada orang yang tidak akan mempertahankan dirimu. Kau kini berada di hadapan Allah Swt. dan ada di rumah-Nya. Rumah yang Dia jadikan sebagai tempat meraih pahala-Nya bagi orang yang mengunjunginya dan membuat ingat orang yang abai kepada-Nya.”

Usai berucap demikian, orang berusia lanjut itu lantas mempercepat langkah-langkahnya. Dalam bertawaf. Melihat hal itu, sang penguasa lantas memerintahkan seorang pengawal untuk menguntit jejak langkah orang itu.
 
Kemudian, seusai bertawaf dan kembali ke tempat peristirahatannya, penguasa itu pun memerintahkan agar orang yang menasihatinya ketika ia sedang berada di Masjid Al-Haram itu dibawa menghadap kepadanya. Dan, ketika orang itu telah dibawa menghadap kepadanya, ia pun bertanya kepada orang itu, “Bapak! Kau berasal dari mana?”
“Saya warga Kota Suci ini,” jawab orang yang telah lanjut usia itu.

“Bapak. Apakah yang mendorong dirimu untuk memberikan nasihat kepadaku. Tadi, di Masjid Al-Haram?”
“Aku merasa kasihan kepadamu, penguasa,” jawab orang itu. Pelan. “Kau telah membuat kendaraan yang kau naiki kelelahan dan banyak orang tidak kuasa beristirahat. Siang dan malam. Juga, kau telah menghamburkan harta untuk membiayai berbagai hal yang Allah Swt. lebih mengetahui manfaatnya. Akibatnya, manakala dirimu dalam posisi sebagai orang yang sangat mendambakan pertolongan Allah Swt. dan rahmat-Nya, kau hanya kuasa pasrah kepada orang-orang zalim otoriter yang bertindak kejam dan tidak berperikemanusiaan. Allah Swt. berfirman, ‘Dan, Aku tidak mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.’ (QS Al-Kahfi [18]: 52).”

Mendengar jawaban yang demikian, penguasa itu pun menundukkan kepala. Lama. Dan, beberapa saat kemudian, ia bertanya kepada orang itu, “Bapak. Dari manakah penghidupanmu?”
“Dari Yang menganugerahkan rezeki kepadamu.”
“Siapa ia?” tanya lebih lanjut sang penguasa. Yang belum memahami arah jawaban orang itu.
“Dari Yang menumbuhkan butir tetumbuhan dan biji buah-buahan. Juga, Yang mengeluarkan makanan yang memikat pandangan dan melelahkan badan berupa tetumbuhan dari bawah tanah yang dijaga malaikat. Sehingga, aku kuasa mendapatkannya tanpa peluh harus bercucuran.”
“Apakah bapak memiliki keluarga?”
“Ya, seorang istri.”
“Apakah bapak seorang pedagang atau seorang pengrajin?”
“Allahlah yang membuat aku hidup berkecukupan.”
“Apakah kau memerlukan bantuanku yang kiranya kuasa membuat dirimu terbantu dalam beberapa persoalan dan tidak memerlukan pertolongan orang lain?”
“Demi Allah. Sungguh, aku tidak memerlukan bantuanmu itu.”
“Apakah bapak punya keperluan lain?”
“Tentu! Taatilah Allah dalam kaitannya dengan rahasia dirimu yang orang lain tidak mengetahuinya. Dengan demikian, kau akan kuasa menggapai segala sesuatu yang kau dambakan dan harapkan.”

Mendengar jawaban yang demikian, sang penguasa kembali menundukkan kepala. Lama. Lantas, beberapa saat kemudian, ia bertanya kembali kepada warga Makkah Al-Mukarramah itu,  “Apakah bapak punya keperluan yang lain lagi?”
“Apakah kau kuasa menghindarkan diriku dari kematian?”
“Tidak. Hal itu di luar kemampuanku.”
“Apakah kau kuasa menghindarkan diriku dari neraka?”
“Tidak. Hal itu di luar kuasaku.”
“Apakah kau kuasa memasukkan aku ke dalam surga?”
“Tidak. Hal itu di luar kuasa saya.”
“Kuasakah kau menghidupkan orang yang telah mati. Sehingga, aku kuasa bertanya kepadanya perihal apa yang ia saksikan dan alami?”
“Tidak. Hal itu di luar kemampuan saya.”
“Kau, ternyata, tidak ada bedanya dengan orang-orang lain yang kau pimpin. Hanya saja, Allah Swt. memberikan karunia kepadamu remah-remah kenikmatan yang segera sirna dan kekuasaan agar Dia dapat menilai tindakan yang kau lakukan.”
 
Usai berucap demikian, orang itu lantas mohon diri dan berlalu. Melihat orang itu melangkah cepat meninggalkan tempat peristirahatan, sang penguasa, yang tidak lain adalah Harun Al-Rasyid, seorang penguasa kondang dari Baghdad Madinah Al-Salam, pun berucap kepada pejabat yang mendampinginya, “Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menjadikan salah seorang rakyatmu orang yang seperti itu. Selama di antara rakya ini masih ada orang yang laksana ia, rakyat yang aku pimpin akan tetap dalam keadaan baik.”@ru