“Cewek Pesisir” Peraih Hadiah Internasional Raja Faisal

‘A’isyah ‘Abdurrahman

‘A’isyah ‘Abdurrahman
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

 DI MANA YA, buku Ma‘a Al-Musthafâ Saw.?”

Demikian gumam pelan bibir saya. Dua hari yang lalu. Bergumam demikian sambil mengarahkan pandangan saya ke jejeran buku. Di sederet rak buku. Di rumah, tentu saja. Buku yang saya cari tersebut bukanlah tentang Gus Mus, yang bernama lengkap Mustofa Bisri, meski arti buku tersebut adalah “Bersama Al-Musthafa”.  Namun, buku itu tentang Perjalanan Hidup Al-Musthafa atau Rasulullah Saw. “Alhamdulillah, buku yang menawan ini ketemu,”  gumam bibir saya lebih lanjut. Selepas menemukan buku yang terbit pada 1972  itu di sebuah rak buku. Sambil menarik napas panjang. Lega, tentu saja.

Lo, mengapa buku itu menawan?

Selain berbobot, juga karena buku itu ditulis seorang ilmuwan yang Muslimah. Menurut pengamatan saya, tidak banyak sîrah nabawiyyah, alias perikehidupan Nabi Muhammad Saw., yang ditulis ilmuwan Muslimah. Malah, dapat dihitung dengan jari. Ya, dapat dihitung dengan jari. Duh!

Kini, sebelum “menyapa” ilmuwan Muslimah tersebut, mari kita simak sejenak alinea pertama sepatah kata yang menjadi mukaddimah karya ilmuwan Muslimah tersebut tentang perikehidupan Rasulullah Saw. :

“Bersama Al-Musthafa aku hidup di dunia ini. Sejak pertama kali udara dunia ini memasuki rongga paru-paru-paruku. Ayat-ayat Alquran, yang menjadi mukjizat baginya dan senantiasa dibaca ayahku, yang saleh dan tekun beribadah, dalam shalat wajib dan shalat Tahajjudnya, merupakan ayat-ayat yang pertama-tama menghiasi pendengaranku. Bersama datangnya cahaya fajar. Sementara pesan-pesan indahnya, bersama ayat-ayat mulia tersebut, merupakan bekal ruhaniah, yang mewarnai lingkungan keluargaku yang religius, sebelum aku mengenal dunia. Perjalanan hidupnya, yang indah dan sarat teladan, menjadi pedoman hidupku, sebelum jejak langkahku memasuki masa beliaku. Dan, madah-madah Nabawiyah dan kidung-kidung sufistik, merupakan senandung yang pertama-tama menghentak intuisiku dan menggetarkan nuraniku. Sejak pertama kali aku melangkah dalam meniti kehidupan ini.”

Itulah sepenggal dari sepatah kata dalam karya tersebut. Dan, kini, mari kita “menyapa” dan berkenalan dengan ilmuwan Muslimah yang satu itu. Namun, sebelum mengenal ilmuwan asal Mesir utara itu, ada baiknya kita tahu tentang Hadiah Internasional Raja Faisal. Ini karena ilmuwan yang satu itu adalah seorang ilmuwan Muslimah pertama yang meraih hadiah bergengsi itu.

Hadiah Nobel, tentu Anda tahu. Hadiah Internasional Raja Faisal? Mungkin, banyak di antara kita yang belum tahu. Hadiah Internasional Raja Faisal adalah hadiah yang  diberikan  King Faisal   Foundation  atau  Al-Mu’assasah  Al-Malik  Faishal   Al-Khairiyah. Hadiah ini pertama kali diberikan pada 1399 H/1979 M.  Semula, hadiah  ini diberikan kepada para tokoh dan ilmuwan yang  berjasa dalam bidang-bidang pengabdian terhadap Islam, kajian keislaman, dan   sastra  Arab.  Lantas,  bidang-bidang  tersebut  kemudian diperluas. Sehingga, kemudian meliputi pula bidang-bidang kedokteran (1401 H/1981  M) dan  sains  (1402 H/1982 M). Para calon pemenang  diseleksi  pada setiap  Januari/Februari dan hadiah diserahkan pada setiap  Maret dalam suatu upacara yang dilangsungkan di Riyadh, Arab Saudi.

Modal  pertama  sebesar satu milyar riyal, lembaga  yang  dipimpin delapan  putra-putra Raja Faisal ini diberikan  para pewaris sang raja kepada lembaga tersebut dan sumbangan  lainnya. Selain memberikan Hadiah Internasional Raja Faisal, lembaga ini juga   membiayai   rumah   sakit,  lembaga pendidikan  dan  ilmu  pengetahuan,  memberikan  bea  siswa,  dan meningkatkan tingkat penghidupan kaum papa. Utamanya di negara-negara berkembang.

Pemberian   hadiah   tersebut  dimaksudkan,   antara   lain,    untuk mengembangkan  dan menghargai karya para tokoh, cendekiawan,  dan ilmuwan yang menonjol dalam pengabdian kepada Islam dan umatnya, kajian  keislaman,  sastra Arab, bidang  kedokteran,  dan  sains. Calon-calon pemenang diajukan atau diusulkan  lembaga-lembaga ilmu  pengetahuan  seperti universitas-universitas  dan  lembaga-lembaga  lainnya.  Pencalonan  secara  pribadi  tidak   diterima, kecuali  diusulkan  oleh sebuah lembaga  resmi.  Demikian  halnya calon  dari  partai  politik  juga  tidak  diterima.   Pencalonan diajukan  dengan memaparkan tentang darma bakti dan  karya  calon dan  hal-hal lain yang berkaitan dengan data-data pribadi yang bersangkutan.

Nah, di antara para ilmuwan yang menerima Hadiah Internasional Raja Faisal ini adalah Prof. Dr. ‘A’isyah Muhammad ‘Ali ‘Abdurrahman. Atau yang lebih terkenal dengan nama samarannya: Bint Al-Syathi’. Kini, siapakah Bint Al-Syathi’ (secara harfiah berarti “Cewek Pesisir”) ini?

Penulis  dan pakar  terkemuka di bidang bahasa dan sastra Arab  ini lahir  di Dimyath,  Mesir  pada Sabtu, 5 Syawwal 1331 H/6 September 1913 M. Putri seorang ulama lulusan Al-Azhar ini, seperti anak-anak seusia dengannya di Negeri Piramid,   mulai   meniti  jalur  pendidikan  di  surau, yang di negerinya disebut  kuttâb   (Taman Pendidikan Alquran), di   kota kelahirannya.  Selepas  itu,  ia memasuki  sebuah  pendidikan  di Kota Mansoura. Selama meniti pendidikan di kota terakhir itu, ia mulai tertarik dengan dunia tulis menulis.  

Kemampuan  di  bidang tulis menulis ‘A’isyah ‘Abdurrahman kian terarah dan terasah selepas ia memasuki dunia pendidikan tinggi di ibukota Mesir: Kairo. Ia pun  kian rajin menulis di berbagai media massa,  seperti  Al-Ahrâm,  Kaukab  Al-Syarq, Al-Balâgh, dan  Al-Hilâl,  dengan  nama samaran  Bint Al-Syâthi’ (Cewek Pesisir).  Dengan  bergulirnya waktu,  nama samaran itu melekat pada nama pemegang gelar  doktor dari  Universitas  Raja Fuad I (kini  Universitas  Kairo)  itu, dengan disertasi  tentang  telaah kritis terhadap sebuah  karya  seorang sastrawan  Muslim terkemuka pada masa pertengahan,  Abu  Al-‘Ala’ Al-Ma‘arri: Risâlah  Al-Ghufrân.  Pembimbingnya adalah seorang pemikir dan penulis kondang Mesir, Prof. Dr. Thaha Husain.

Perjalanan   hidup  selanjutnya  istri  seorang  pemikir   Muslim terkemuka  Mesir,  Prof. Dr. Amin  Al-Khuli (yang  menikahinya  pada  1364 H/1944  M),  ini kian sarat dengan  kegiatan  ilmiah.  Selain menjadi  guru  besar  di Universitas ‘Ain  Syams,  Kairo, ia  juga  juga menjadi  guru  besar tamu di sejumlah  universitas  terkemuka  di Timur  Tengah.  Antara lain di Universitas  Umm  Durman,  Sudan, Universitas   Qarawiyyin  di  Fez,  Maroko,  dan   Universitas Algiers, Aljazair.

Di sisi lain, Bint Al-Syathi’ juga tetap menggeluti  dunia tulis  menulis  yang telah ia bina sejak  muda usia.  Sehingga,  lewat tangannya, hingga  ia berpulang kepada Sang  Pencipta  pada  Selasa, 11 Sya‘ban 1419 H/1 Desember 1998  M, lahir sederet karya tulis yang sebagian  di  antaranya telah  diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa dunia. Antara  lain Al-Qur’ân  wa Qadhâya Al-Insân, Al-Tafsîr Al-Bayânî li  Al-Qur’ân Al-Karîm,   Al-Qur’ân  wa  Hurriyah  Al-Irâdah,  Al-Syâ‘irah  Al-‘Arabiyyah Al-Mu‘âshirah, Nisâ’ Al-Nabî, Tardîm Sayyidât Bait  Al-Nubuwwah, Qirâ’ah fî Watsâ’iq Al-Bahâ’iyyah, Al-Khansâ’, dan ‘Alâ Al-Jisr, Bain Al-Hayâh wa Al-Maut: Sîrah Dzâtiyyah. Karena jasa-jasanya tersebut, akhirnya pada 1414 H/1994 M ia menerima  Hadiah  Internasional Raja Faisal di bidang Sastra Arab.

Perjalanan hidup ilmuwan yang satu ini memberikan kita sebuah pelajaran: tidak hanya ilmuwan pria saja yang tampil di pentas ilmiah. Kaum perempuan pun, kini, juga tampil di arena yang sama. Selain itu, Bint Al-Syathi’ dapat dikatakan merupakan sedikit di antara para ilmuwan Muslimah dari Dunia Islam yang menulis perikehidupan Nabi Muhammad Saw. Kiranya, langkahnya tersebut dilanjutkan para ilmuwan Muslimah lainnya.

Semoga demikian!