Adelin Lis Bisa, Masiku Tidak

Adelin Lis Bisa,  Masiku Tidak
Adelin Lis dan Harun Masiku

Oleh: Imas Senopati

TADI malam buron pembalak hutan, terpidana Adelin Lis,  berhasil dibawa pulang ke Jakarta dari Singapura. Jaksa Agung Burhanuddin tampak lega mengumumkan pemulangan Adelin dan konferensi pers di Kejaksaan Agung. Prestasi? Anggap saja begitu. Walaupun membawa buron di negeri yang sudah menandatangani perjanjian ekstradisi sebenarnya tak sulit-sulit amat.

Usai menonton jumpa pers tentang pemulangan Adelin saya langsung istirahat. Pagi-habis shalat Subuh, saat membuka layar HP ada banyak kiriman WA dari kawan menanya ihwal pemulangan Adelin Lis. Ada yang mengucap salut dan mengapresiasi atas penangkapan dan pemulangan buron pembalak hutan itu. Tapi ada yang mempersoalkan keterlambatan tindakan Kejaksaan Agung. 

"Mengapa baru sekarang, kok nggak dulu-dulu," begitu bunyi WA yang saya terima.

Alasannya, nangkap Adelin di Singapura itu kan sama halnya menangkap ikan dalam bubu. Sudah didahului terbitnya "red notice", sudah bersurat kepada Interpol, Singapura itu negara kota yang tembus pandang. "Kalau mau nangkap sejak dulu nggak sulit kan?" Dan sebagainya, dan sebagainya.

Yang paling mengganggu pikiran saya, ada yang pertanyaan sekaligus pertanyaan yang melompat ke buron lain. "Kalau Adelin Lis mudah ditangkap kok Harun Masiku tetap dibiarkan berkeliaran? Bukankah dia lebih mudah ditangkap karena masih berada di negeri ini?"  

Saya jawab sekenanya saja. "Bukankah nangkap orang di Indonesia lebih susah dibanding nangkap di Singapura. Wilayahnya lebih luas, bisa nyusup kemana-mana, suka-suka daerah mana yang dipilih."

"Kalau saya bukan soal itu Mas." kejar kawan saya di WA-nya. "Persoalannya Harun Masiku mau ditangkap beneran atau hanya pura-pura mau ditangkap. Dicari sungguhan atau pura-pura dicari.." 

Belum lagi saya balas, kawan itu menambahkan, "Adelin Lis kan tidak berkaitan dengan politik, sedangkan Harun Masiku jelas-jelas ada kaitan dengan the ruling partai, ada kaitan dengan KPU segala. Kalau dia ketangkap dan nyanyi-nyanyi ambyarlah partai  besar itu, terbongkarlah dosa-dosa KPU," tulis dia lebih lanjut.

Tidak memberi kesempatan saya berpendapat, eh dia sang kawan sudah nggak sabar lagi pakai WA, tapi ngomong langsung lewat telepon dengan kalimat lebih panjang lagi. 

"Bagaimana KPK mau nangkap Harun Masiku. KPK kan sedang limbung urusan Tes Wawasan Kebangsaan, penyidiknya ada yang ditahan, pimpinannya ada yang dilaporkan ke Dewas, Ombudsman, Komnas HAM, Bareskrim...." dan masih terus nerocos.

"Sudah-sudah, saya paham yang sampeyan maksud. Kenapa kita jadi bicara soal Harun Masiku, bicara KPK. Kita balik ke penangkapan Adelin Lis saja," pinta saya. Kami jadi keterusan ngomong langsung. Nulis WA terasa lebih lama. Malah saya sering salah-salah nunul pas nggak pakai kacamata baca.

"Saya malah setuju dengan pertanyaan yang sampeyan kemarin. Jangan-jangan Kejaksaan Agung nangkap Adelin ini hanya untuk alihkan isu korting hukuman Pinangki Malasari yang tak wajar itu," sambung kawan saya tadi.

"Sudah-sudah, saya mau baca WA yang lain. Lagian ini kan hari Minggu. Tak perlu serius-serius amat. Saya mau jalan-jalan di sekitar rumah. Mumpung udara Bambu Apus lagi bersih, langit terang tanpa awan.." (*)