7 BUMN akan Ditutup, Ada yang Karyawannya Cuma 7 Orang 

7 BUMN akan Ditutup, Ada yang Karyawannya Cuma 7 Orang 
Gedung Kementerian BUMN

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menteri BUMN Erick Thohir akan menutup atau melikuidasi 7 perusahaan pelat merah hingga 2022. 

Alasan penutupan ke-7 BUMN ini karena perseroan sudah lama tidak beroperasi dan merugi. 

Namun, proses penutupan tujuh BUMN tersebut tidaklah mudah. Diketahui, restrukturisasi beberapa BUMN membutuhkan waktu sekitar 9–12 bulan, serta prosesnya melalui lintas kementerian atau lembaga. 

Ketujuh BUMN itu adalah PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Kertas Leces (Persero), PT Industri Gelas (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), dan PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero). 

Berikut fakta-fakta 7 BUMN yang akan ditutup seperti dilansir iNews, Sabtu (25/9/2021).

1. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) 

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) merupakan induk dari Merpati Nusantara Airlines, salah satu maskapai penerbangan nasional yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia. 

Maskapai ini didirikan pada 1962 dan berpusat di Jakarta. Pada 1 Februari 2014, Merpati menangguhkan seluruh penerbangan dikarenakan masalah keuangan akibat utang. 

Diketahui, Merpati membutuhkan Rp7,2 triliun untuk beroperasi kembali. 

2. PT Kertas Leces (Persero)

PT Kertas Leces (Persero) terletak di Probolinggo, Jawa Timur. Adapun PT Kertas Leces merupakan pabrik kertas tertua kedua di Indonesia setelah pabrik Kertas Padalarang. 

Pabrik kertas Leces sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda. Asalnya bernama N.V Papierfabriek Letjes, berdiri pada 1939. 
Pabrik ini mulai beroperasi pada 1940, dengan menghasilkan kertas 10 ton per hari. 

PT Kertas Leces (Persero) dinyatakan pailit sejak tanggal 25 Sempeteber 2018 sesuai dengan putusan Pengadilan No.43 PK/Pailit/Pdt.Sus-Pailit/2019 No 01/Pdt.Sus.  

Usai dinyatakan pailit, PT Kertas Leces diwajibkan membayar kewajiban kepada negara dalam hal ini untuk PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebesar Rp9 miliar. 

Namun seiring berjalannya waktu, Kertas Leces hanya menyetorkan Rp1,2 miliar dari penjualan aset. 

3. PT Industri Gelas (Persero)

PT Industri Gelas atau PT IGLAS (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kemasan gelas, khususnya botol. 

Perusahaan ini didirikan pada 29 Oktober 1956 dan beroperasi pertama kali pada 1959. 

PT Industri Gelas mampu memproduksi berbagai jenis botol dengan total kapasitas 340 ton per hari atau 78.205 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri bir, minuman ringan, farmasi, makanan, dan kosmetika. 

Namun seiring dengan penggunaan plastik sebagai kemasan botol, PT Industri Gelas mulai sepi order, hingga pabriknya tak lagi berproduksi sejak 2015.  

Merujuk laporan PPA, aset PT Iglas hanya Rp 188,69 miliar, sedangkan utangnya mencapai Rp 318,99 miliar, pada 2008. Perusahaan mencatatkan rugi sebesar Rp 86,26 miliar. 

4. PT Istaka Karya (Persero)

PT Istaka Karya (Persero) adalah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. 

Perusahaan ini sebelumnya bernama PT ICCI (Indonesian Consortium of Construction Industries) dan merupakan suatu konsorsium yang beranggotakan 18 perusahaan konstruksi Indonesia. Istaka Karya mengalami masa-masa berat sebelum 2013. 

Berdasarkan laporan PT PPA, saat itu operasional perusahaan sempat berhenti. 

Perseroan juga dalam proses menghadapi Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan, dan sebagian besar karyawan telah dirumahkan.  

Pada 2011, perusahaan mengalami kerugian Rp 275 miliar, ekuitas negatif Rp 656 miliar, dan tidak memiliki likuiditas dan dukungan dana. 

Pada 2013 hingga 2017, PPA masuk ke Istaka Karya untuk menyelamatkan perusahaan.  

Upaya PPA selama kurang lebih empat tahun berdampak positif pada perseroan di 2018. 

Saat itu, aset perusahaan tercatat Rp 449 miliar, utang Ro 278 miliar, ekuitas positif Rp 170 miliar. Perusahaan juga berhasil meraup pendapatan Rp 248 miliar dan laba bersih Rp 21 miliar, serta memenuhi kewajiban membayar utang ke PPA. 

Saat ini, Istaka Karya masih menggarap beberapa proyek. Meski demikian, Menteri BUMN memutuskan Istaka Karya akan ditutup dan sebagian besar karyawannya dipindahkan ke PT Nindya Karya.  

5. PT Kertas Kraft Aceh (Persero)

PT Kertas Kraft Aceh (Persero) mulai beroperasi pada 1983 di Lhokseumawe, Aceh Utara. 

Adapun tujuan awal KAA didirikan dalam rangka swasembada kertas kantong semen. 

Produsen pembungkus semen dari Aceh ini terpaksa berhenti beroperasi sejak 2007 karena kesulitan mendapat bahan baku dan gas, juga masalah keuangan. 

Pada 2010, lima BUMN yang terdiri dari PT Semen Gresik, PT Bukit Asam, Perum Perhutani, PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) dan PT Kertas Kraft Aceh, sepakat bersinergi untuk menghidupkan kembali operasional perseroan. 

Pada 2012, dibahas rencana pengoperasian pembangkit listrik di PT lertas Kraft Aceh dalam rangka program KSO dengan PLN. 

Pada 2014, PT klertas Kraft Resmi menyuplai listrik ke PLN.  Pada 2015, dalam kunjungan ke Aceh, Presiden Joko Widodo yang merupakan mantan karyawan PT Kertas Kraft Aceh menyampaikan keinginkan agar perusahaan itu beroperasi kembali.  

6. PT Industri Sandang Nusantara (Persero) 

PT Industri Sandang Nusantara (Persero) merupakan perusahaan tekstil milik pemerintah Indonesia yang berkantor pusat di Bekasi, Jawa Barat. 

Perusahaan BUMN ini didirikan pada 1999 dalam swasembada kebutuhan pangan yang dicanangkan pada 1961. 

PT Industri Sandang Nusantara memproduksi benang tenun, karung, dan karung plastik yang diproduksi oleh 7 baril pemintalan, 1 baril terpadu pemintalan dan pentenunan, serta satu pabrik karung plastik. 

Awalnya perusahaan pelat merah ini mempunyai sembilan unit pabrik pemintalan benang di Karawang, Bandung, Cilacap, Tegal, Secang, Lawang, Grati, Tohpati, dan Makassar. 

Namun terus mengalami kerugian Rp 159,95 miliar dan memiliki utang sampai Rp 581,13 miliar pada tahun 2010.  

Akhirnya pada 2011, dilakukan penjualan beberapa aset dan pembayaran utang sehingga jumlah pabrik pemintalan benang yang beroperasi tinggal empat, di Cilacap, Secang, Lawang, dan Tohpati. 

Dari restrukturisasi itu, terjadi penyusutan kapasitas produksi dari 310,8 ribu mata pintal (MP) menjadi 144 ribu MP. 

7. PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) 

PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) atau PT PANN merupakan BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan kapal. 

Perusahaan ini didirikan pada 1974. Selain bergerak di bidang pembiayaan kapal, BUMN ini juga bergerak di bidang telekomunikasi dan navigasi maritim serta jasa pelayaran untuk usaha jasa sektor maritim.  

Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan alasan penutupan PT Pengembangan Armada Niaga Nasional atau PT PANN (Persero), karena hanya memiliki 7 karyawan. 

Di sisi lain bisnisnya tak fokus, karena selain di bisnis pembiayaan tapi juga masuk ke bisnis perhotelan.