41 Napi Lapas Tangerang Korban Kelalaian

41 Napi Lapas Tangerang  Korban Kelalaian

SAAT kita terbuai mimpi dalam tidur lelap, 41 narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tangerang meregang nyawa. Ya, Lapas Tangerang terbakar dahsyat. Rabu dini hari (9/9/20210). Kabar itu kita dengar menyentak. Hati kita teriris, membayangkan saudara-saudara kita berjuang keras membuka pintu lapas yang terkunci rapat. Membayangkan kobaran api membakar tubuh-tubuh sampai hangus. Lolongan jeritan kalah keras dari gemertak kayu-kayu, atap bangunan lama yang terbakar dahsyat. Kita malu, mata dunia menyorot kita. Kita dianggap teledor, tak mampu melindungi nyawa warganya.

Sampai saat ini belum diketahui persis penyebabnya. Dugaan awal, karena kortsleting listrik. Ini musibah. Korban terbakar karena tak mampu membuka pintu. Pintu dikunci karena protapnya begitu. Itu inti pernyataan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Begitu enteng mengucap protap--prosedur tetap—nya begitu. Jadi mereka korban protap? Ya, kita persoalkan memangnya protap harus kaku begitu, sama sekali tidak memihak kepada para napi yang mestinya nyawanya mendapat perlindungan. Protap bodoh yang tidak memberikan klausul yang bisa diterima akal sehat. Misalnya, pintu harus selalu terkunci dan sewaktu ada bahaya atau keadaan darurat dapat dibuka dengan mudah.

Andai begitu terjadi kebakaran, para napi bisa membuka pintu, atau dibukakan petugas, tidak terbelenggu oleh protap itu, sekian nyawa dapat terselamatkan. Tidak terjadi tragedi seperti itu.

Lihatlah Gedung-gedung pertemuan, seperti mal, perkantoran, selalu tersedia pintu darurat. Lift pun diberi petunjuk kaluar terjadi kebakaran silakan menggunakan tangga. Pesawat, bus, kereta api pun jelas ke mana dan bagaimana penumpang menyelematkan diri ketika terjadi bahaya. Menjelang pesawat take off, pramugari mengumumkan cara penyelamatan. Di bus atau gerbong kereta api disediakan alat pemecah kaca disertai petunjuk jika terjadi bahaya. Mengapa di lapas protapnya pintu hanya harus selalu dikunci, tak ada opsi penyelamatan jika terjadi kebakaran seperti yang melanda Lapas Tangerang.

Instalasi listrik selalu menjadi kambing hitam. Ternyata sudah 50 tahunan instalasi tak pernah dibenahi. Jelas membahayakan penghuni. Tanpa pembenahan selama setengah abad, jelas seperti menyimpan bom waktu, menunggu saat meledak, menunggu terjadi korslet yang mampu membakar bangunan dan penghuninya. Ini juga menunjukkan betapa napi tidak mendapat perlindungan selayaknya. Lapas tak ubahnya dengan (maaf) kandang unggas yang sewaktu-waktu bisa terbakar. Terbakar ya sudah, membangun kandang lagi.

Ya perlakuan terhadap napi yang biasa disebut warga binaan sangat tidak layak. Bukan hanya soal protapnya, tapi juga penataan dan soal overcapacity hampir semua lapas di Indonesia. Alasannya selalu klasik, kapasitas lapas memang sangat tidak memadai dengan jumlah penambahan napi setiap tahunnya yang sangat pesat. 

Secara nasional menurut data per 14 Februari 2021 terdapat 252.384 warga binaan, napi dan tahanan. Kapasitas lapas dan rutan negara sebenarnya hanya untuk 135.704 orang. Jadi jumlah penghuni hampir dua kali lipat kapasitas yang tersedia. Sudah sangat lama kita mendengar keluhan ini dan selalu dijanjikan akan dibangun lapas-lapas baru, atau yang sudah ada diperbesar dan dibangun kembali. Tapi selalu lagu lama yang terdengar, hanya akan, akan, dan akan, direncanakan, dirancang dan diagendakan. Kondisi lapas dan rutan realitasnya tak pernah membaik. Baik kapasitas, protapnya dan perlakuannya terhadap para napinya.

Kita tidak mampu membangun lapas? Rasanya tak mungkin. Negeri ini membangunan ribuan kilo meter jalan tol dan jalan biasa, membangun Gedung-gedung perkantoran, membangun bandara-bandara dan pelabuhan baru, serta proyek-proyek pembangunan lainnya yang menghabiskan dana ratusan triliun rupiah, masa tak mampu membangunan lapas. Masa Gedung lapas dan rumah tahanan dibiarkan memberikan nestapa, meninmbulkan overcrowded, yang gampang memicu kerusuhan antarpenghuni, rawan terjangkit penyakit seperti covid-19.

 Jadi bukan persoalan fisik semata, tapi soal orientasi pemidanaan yang perlu diubah dan dibenahi. Napi masih dianggap sebagai pesakitan. Lapas masih dianggap sebagai penjara seperti di masa penjajahan. Padahal dunia telah berubah. Napi di Negra-negara yang beradab telah diperlakukan secara baik, dimanusiakan, mereka dibina agar sekeluarnya dari lapas dan menyimpan dendam akibat penderitaan seperti yang terjadi di lapas dan rutan di Indonesia.

Kembali ke pernyataan Menkumham Yasonna Laoly. Dia menganggap peristiwa kebakaran Lapas Tangerang itu musibah. Pintu lapas tak bisa segera dibuka karena protapnya memang pintu harus selalu terkunci. Sama sekali tak ada keinginan untuk memperbaiki protap yang mencelakakan itu. Juga hanya menyampaikan keluhan klasik soal problem kapasitas lapas. Tak ada niatan untuk membenahi lapas dan rutan secara menyeluruh. Soal fisik bangunannya, ihwal kemampuan SDM-nya, dan orientasi perlakuannya terhadap para napi. Menteri Yasonna seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa yang menyesakkan dada itu, sebagai pejabat yang merepresentasikan negara.

Duka mendalam kita untuk para korban. Kita tundukkan kepala. Kita panjatkan doa kepada Sang Khalik semoga semua korban mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.