3 Juta Warga Indonesia Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp100 Triliun

3 Juta Warga Indonesia Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp100 Triliun
RS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Riset menunjukkan bahwa sebagian besar orang di Indonesia lebih memilih menggunakan layanan medis di Singapura, Malaysia, Korea, Eropa, bahkan di Amerika. Selain kompetensi dan fasilitas medis, destinasi medis tersebut juga menawarkan layanan dan pengalaman traveling yang menarik.

Menurut IMTJ (International Medical Tourism Journal) setiap tahunnya kurang lebih ada sekitar 3 juta orang berobat keluar negeri dan mengeluarkan biaya kurang lebih Rp100 triliun.

"Rp100 triliun itu untuk seluruh warga Indonesia, kalau dihitung-hitung untuk Surabaya sekitar sepertinya saja itu sudah sekitar Rp30 triliun. Ini kan angka yang cukup besar," jelas dr. Niko Azhari Hidayat, CEO Indonesia Medical Tourism, kepada Basra, disela soft launching Surabaya Medical Tourism, Senin (27/9).

Lebih lanjut Niko mengungkapkan, dari angka yang fantastis tersebut menunjukkan sejatinya warga Indonesia tergolong masyarakat yang mampu. Mereka rela merogoh uang yang tidak sedikit untuk mendapatkan pengobatan ataupun perawatan medis yang maksimal.

"Banyak yang ke Penang (Malaysia) atau Singapura. Kalau Rp10 triliun atau Rp20 triliunnya untuk Surabaya saja, itu sudah Alhamdulillah dan bisa menggerakkan perekonomian. UMKM nya terimbas positif, pariwisata juga," jelas Niko.

Menurut SQU Medical Journal, kata Niko, ada lima faktor yang menjadi penyebab medical tourist mencari perawatan medis di luar negeri. Kelima faktor tersebut, yakni, keterjangkauan biaya, ketersediaan jenis perawatan medis, kemudahan mendapat perawatan medis, perawatan medis yang dapat diterima, serta alasan tambahan seperti teknologi, perawatan, pelayanan di luar negeri yang dinilai lebih profesional, sekalian berwisata.

"Untuk itu kami berinisiatif mendorong kemajuan iklim Medical Tourism di Indonesia dengan adanya pembenahan total dalam aspek medis. Secara perlahan baik itu mulai dari hospitality services pariwisata dan pendukung maka bukan tidak mungkin Indonesia segera menjadi tujuan medical tourism minimalnya untuk penduduk benua Asia," pungkasnya.