17 Pasukan Tewas Akibat Serangan Udara AS Hantam Milisi Pro-Iran

17 Pasukan Tewas Akibat Serangan Udara AS Hantam Milisi Pro-Iran

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Lembaga pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan sedikitnya 17 pasukan pro-Iran tewas dalam serangan udara yang diluncurkan Amerika Serikat ke Suriah, Kamis (25/2/2021) malam waktu setempat.

SOHR mengatakan belasan orang tewas setelah serangan itu menghantam tiga truk yang membawa amunisi.

"Ada banyak korban. Dugaan awal setidaknya 17 pasukan tewas, semua anggota Pasukan Mobilisasi Populer," kata direktur SOHR Rami Abdul Rahman, kepada AFP, merujuk pada koalisi paramiliter Irak pro-Iran, Jumat (26/2/2021).

Serangan tersebut merupakan yang pertama diluncurkan AS sejak Presiden Joe Biden menjabat.

Biden memerintahkan langsung Pentagon untuk meluncurkan serangan.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan serangan itu menghancurkan sejumlah fasilitas di titik kontrol perbatasan yang digunakan oleh kelompok militan yang didukung Iran, termasuk Kata'ib Hezbollah dan Kata'ib Sayyid al-Shuhada.

Menurut dia, serangan ini merupakan respons atas serangan roket yang menghantam pangkalan militer AS di Irak pada 15 Februari lalu.

Kala itu tiga roket menyerang bandara Erbil, Irak, di mana salah satu di antaranya menghantam kompleks militer yang menjadi basis koalisi pasukan AS.

Hujanan roket tersebut merupakan yang pertama menyasar fasilitas diplomatik AS di Irak sejak dua bulan terakhir.

Fasilitas militer dan diplomatik AS dan negara Barat kerap menjadi sasaran puluhan roket dan serangan bom sejak 2019 lalu. Sebagian besar serangan terjadi di Baghdad.

AS dan Irak menyalahkan kelompok bersenjata termasuk faksi pro-Iran Kataeb Hisbullah dan Asaib Ahl al-Haq terhadap serangan-serangan tersebut.

Kedua kelompok itu sangat menentang kehadiran tentara AS dan koalisi asing sejak 2014 itu. Koalisi AS hadir di Irak untuk membantu militer negara itu melawan kelompok ISIS.

Setelah kejatuhan ISIS, koalisi asing telah memulangkan lebih dari 3.500 pasukan, termasuk 2.500 personel AS.

Sumber koalisi menuturkan basis bagi sebagian besar koalisi asing itu berada di kompleks militer bandara Erbil. (Jo)